JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Deni Apriadi Rahman, yang lebih dikenal sebagai Dea Lipa atau Sister Hong Lombok, kini muncul di tengah publik setelah menjadi viral di media sosial karena menyamar sebagai wanita dan bekerja sebagai MUA yang cukup terkenal di Lombok Tengah.
Identitas aslinya terungkap setelah akun Facebook @Diana_Arkayanti mengunggah foto yang menunjukkan bahwa sosok yang berhijab dan cantik itu sebenarnya seorang pria, pada Kamis (6/11/2025).
Unggahan tersebut telah dilihat sebanyak puluhan ribu kali, mendapatkan lebih dari 1.591 tanggapi, 1.700 komentar, dan dibagikan lebih dari 1.800 kali.
Deni memberikan klarifikasi dan bantahan atas berbagai tuduhan yang beredar luas tentang dirinya dalam sebuah konferensi pers di Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada hari Sabtu (15/11/2025).
Deni menyatakan bahwa banyak narasi negatif yang beredar tidak berdasar dan menyudutkan dirinya secara tidak adil. Pria berusia 23 tahun itu menyangkal tuduhan bahwa ia melakukan penistaan agama, seperti salat menggunakan mukena dan berdiri di barisan perempuan di masjid.
"Tidak benar, saya menghormati rumah ibadah, menghormati tata cara ibadah," katanya.
Deni juga menepis keras tuduhan bahwa ia termasuk dalam golongan sodom atau terlibat dalam hubungan sesama jenis, serta fitnah terkait kesehatannya, termasuk tuduhan mengidap HIV/AIDS. Ia membuktikan bahwa tes di klinik resmi menunjukkan hasil negatif.
"Tuduhan bahwa saya mengidap HIV pun merupakan fitnah. Saya baru menjalani tes HIV di klinik PKBI, dan hasilnya negatif," tegasnya.
Sosok Sister Hong Lombok mulai viral setelah identitasnya sebagai laki-laki terungkap. Deni dikenal sebagai MUA yang kerap memakai jilbab saat merias pengantin wanita. Penampilannya yang feminin dan berhijab membuat banyak orang, termasuk pria, terkesan dan memujinya.
Namun, ketika identitasnya terungkap, sejumlah klien membatalkan jasa rias yang sudah dipesan, menyebabkan kerugian materiil tidak hanya pada Deni, tetapi juga pada asisten, henna artist, serta fotografer yang bekerja sama dengannya.
Selain mengalami kerugian ekonomi, Deni juga mengalami tekanan mental yang berat. Ia mengatakan menerima ribuan komentar negatif, cacian bahkan ancaman pembunuhan di media sosial pribadinya sejak viral.
Tekanan ini membuat Deni sempat berpikir untuk mengakhiri hidup.
"Sejak viral, saya mengalami tekanan yang sangat berat. Bahkan beberapa kali saya sempat kehilangan kendali dan mengalami pikiran-pikiran berbahaya terhadap diri sendiri," kata Deni.
"Saya menerima ribuan komentar berisi cacian dan hinaan. Saya bahkan mendapat teror seperti ancaman pembunuhan," lanjutnya.
Di luar kontroversi dan tuduhan yang menimpanya, Deni menjelaskan alasan mengenakan pakaian wanita dan jilbab saat bekerja. Ia mengatakan itu merupakan bentuk ekspresi diri yang muncul dari rasa kagum, bukan untuk menipu atau melecehkan siapa pun.
"Saya menyadari bahwa saya memang pernah menggunakan jilbab. Bagi saya, jilbab itu simbol kecantikan, kelembutan, dan kehormatan," katanya.
Namun, setelah menjadi perbincangan negatif, ia memutuskan untuk tidak lagi memakai hijab agar menghindari salah paham.
Deni juga menceritakan pengalaman masa kecil yang penuh tantangan. Ia lahir dengan gangguan pendengaran yang semakin memburuk akibat kecelakaan ketika usianya sekitar 10 tahun.
Kedua orang tuanya adalah Pekerja Migran Indonesia, sehingga Deni tumbuh di bawah asuhan neneknya sampai akhirnya sang nenek meninggal saat Deni duduk di kelas 6 SD.
Masa kecilnya dipenuhi perundungan dan ia hanya bisa sempat mengenyam pendidikan sampai jenjang SD saja. Setelah itu, Deni belajar cara hidup mandiri dan mengasah kemampuan tata rias secara otodidak dengan menonton video di YouTube.
(Rizma)
Editor : Imron Arlado