Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Bukan Sekedar Meja Biasa, Inilah Makna Filosofis Meja Bundar dalam Budaya Tiongkok

Imron Arlado • Senin, 17 November 2025 | 00:43 WIB
Dalam budaya China, bentuk lingkaran memiliki posisi yang istimewa karena dianggap mencerminkan harmoni sekaligus kesetaraan dalam hidup. Sumber foto: Google
Dalam budaya China, bentuk lingkaran memiliki posisi yang istimewa karena dianggap mencerminkan harmoni sekaligus kesetaraan dalam hidup. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Tahukah kamu jika di China, meja yang berbentuk bundar atau lingkaran bukan sekedar meja dan bentuk yang biasa?

Dalam budaya China atau Tiongkok, bentuk lingkaran memiliki posisi yang istimewa karena dianggap mencerminkan harmoni sekaligus kesetaraan dalam hidup.

Bentuk lingkaran yang tanpa ujung atau sudut seakan menggambarkan visual kesatuan dan keutuhan apabila menjadi sebuah benda.

Selain itu, lingkaran juga sering dikenal sebagai lambang hubungan yang tidak terputus, baik dalam konteks keluarga maupun interaksi sosial.

Dalam bahasa China, kata "bulat" memiliki arti "yuan" yang kerap kali dikaitkan dengan konsep tuányuán yang berarti reuni atau bersatu kembali.

Meja yang berbentuk lingkaran dianggap dapat menghadirkan suasana yang lebih dekat dan akrab karena semua orang berada dalam jarak yang dekat dan hampir sama dari pusat meja.

Maka dari itu, meja lingkaran ini memiliki fungsi sosial yang cukup penting, yakni tak hanya dijadikan sebagai tempat makan, tetapi juga menjadi tempat untuk berinteraksi, berdiskusi, dan mempererat hubungan.

 

Baca Juga: Pameran Nasional Ramaikan Jambore #2 Minitrek Minion

 

Bentuk lingkarannya menciptakan ruang tanpa sudut yang mampu membuat tiap orang merasa terlihat dan didengarkan setiap mereka menyampaikan sesuatu.

Struktur meja berbentuk lingkaran tanpa sudut inilah yang kemudian membuat hubungan menjadi terasa lebih dekat, tiap orang seolah seolah berada dalam satu lingkup pengalaman hidup yang hampir sama.

Dalam kepercayaan budaya China atau Tiongkok, kebersamaan dan persatuan dapat terbangun dengan cara paling sederhana, yakni dari cara duduk yang sejajar, tanpa adanya ketentuan posisi yang dianggap lebih tinggi.

Meja dengan bentuk bulat atau lingkaran ini juga tak memberikan ruang bagi siapapun untuk menjadi kepala meja, sehingga siapapun yang berada di meja tersebut memiliki posisi yang sama persis.

Selain itu, dalam budaya China yang sangat menekankan keharmonisan, susunan meja seperti itu dapat membantu mengurangi jarak atau kesenjangan sosial antara tamu dan tuan rumah.

Dengan begitu, interaksi menjadi semakin lancar dan lebih cair karena tidak terikat pada ketentuan kasta dan lebih memungkinkan alur percakapan menjadi lebih terbuka.

Sementara itu, penggunaan meja berbentuk lingkaran di China sebenarnya sudah ada sejak masa-masa dinasti awal, terutama di lingkungan keluarga bangsawan dan keluarga lainnya yang sering mengadakan jamuan.

Bentuk ini tak hanya dipilih karena makna filosofisnya yang sangat menarik, tetapi juga karena kemudahan untuk menjamu tamu.

Seiring berjalannya waktu, meja berbentuk lingkaran semakin banyak digunakan di berbagai restoran, baik restoran lokal China maupun restoran lokal negara lain, dan acara-acara resmi karena modelnya dinilai memenuhi standar estetika, fungsinya yang praktis, dan cocok untuk digunakan makan bersama.

Penggunaannya yang tetap berlaku sejak dahulu hingga saat ini menunjukkan bahwa nilai budaya dan fungsi sosial dari meja legendaris China ini tetap relevan dari masa ke masa.

Pada perayaan tahun baru imlek atau perayaan keluarga besar China, meja bundar inilah yang selalu menjadi pusat kegiatan.

Lingkaran meja tanpa sudut dan tanpa batas melambangkan berkumpulnya keluarga dalam suasana yang bahagia dan harmonis.

 

Baca Juga: Desa Balongmojo, Kecamatan Puri Gencarkan Aksi PSN, Antisipasi Serangan Demam Berdarah

 

Tak hanya dalam perayaan imlek dan kumpul keluarga, dalam banyaknya acara pernikahan atau jamuan perusahaan, meja bundar juga menjadi ruang interaksi utama yang menciptakan suasana keakraban dan kebersamaan yang sesuai dengan makna acara tersebut.

Penggunaan meja bundar sebagai pusat interaksi dan kebersamaan dalam berbagai acara penting menjadi bukti nyata atas betapa kuatnya simbol lingkaran dalam menyatukan tiap orang.

Hingga kini, meja bundar tetap dan bahkan semakin populer dalam desain restoran modern, hotel, sampai ruang rapat karena bentuknya yang sangat mendukung interaksi menjadi lebih efisien dan setara.

Meski kini tampilannya semakin bervariasi, nilai-nilai lama, yakni kebersamaan dan keharmonisan baik dalam konteks keluarga maupun profesional, yang berada dalam meja ini tetap melekat pada meja bundar dan tidak akan pernah hilang.

Seluruh pemaknaan tersebut menunjukkan bahwa meja bundar bukan sekedar benda fisik tanpa makna apapun, melainkan gambaran dari bagaimana manusia tetap bisa berinteraksi dengan lancar dan terbuka meskipun tanpa batasan hierarki atau jenjang kasta.

FANEZA

Editor : Imron Arlado
#kepercayaan #china #lambang #Lingkaran #budaya #tradisi #makna filosofis #Fungsi Sosial #meja bundar #penggunaan #tiongkok