JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Sebuah unggahan di media sosial X yang menjadi sorotan pada Rabu, 12 November 2025, memperlihatkan dua karyawan Kereta Api Indonesia (KAI) yang bekerja sebagai pramugara dan pramugari tengah duduk berdua di ruang tunggu Stasiun Yogyakarta.
Pemilik akun @ohrrue beranggapan bahwa gambar itu akan digunakan sebagai bukti bahwa mereka sedang terlibat dalam hubungan romantis dan berperilaku tidak pantas di tempat umum dengan menggunakan seragam kerja, sehingga mengakibatkan kontroversi besar dan kritik negatif dari pengguna internet.
Namun, pernyataan tersebut segera ditanggapi dengan bantahan dari berbagai pihak, keluarga salah satu karyawan yang muncul dalam foto tersebut menyatakan bahwa anggota keluarga mereka hanyalah menunggu giliran untuk bertugas dalam perjalanan kereta selanjutnya dan tidak melakukan tindakan yang tidak sesuai norma atau tidak etis.
Mereka menyayangkan adanya tuduhan negatif yang ditujukan kepada mereka, tanpa berusaha untuk mengetahui kebenaran yang ada.
Manajemen PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 6 Yogyakarta, melalui Manager Humas Feni Novida Saragih, membeberkan penjelasan resmi bahwa kedua karyawan tersebut adalah staf yang sedang menjalankan kewajiban dan diizinkan untuk menggunakan ruang tunggu sebagai area untuk istirahat pada saat mereka menunggu jadwal tugas berikutnya.
KAI menekankan bahwa anggapan terkait hubungan pacaran di area kerja pegawai KAI adalah hal yang keliru dan merugikan nama baik mereka, pihak KAI juga menyayangkan adanya penyebaran foto tanpa izin yang pada akhirnya menimbulkan salah paham dan menyerukan kepada masyarakat agar menghormati privasi dan etika pegawai.
Respon pengguna internet pun begitu beragam, banyak warganet yang membela karyawan KAI tersebut dengan berpendapat bahwa mengomentari sebuah momen di lingkungan publik tidaklah serta-merta dapat dianggap sebagai aib atau hal negatif.
Mereka mengingatkan agar tidak cepat mengambil kesimpulan buruk mengenai orang lain tanpa mengetahui konteks secara menyeluruh dan menghargai kehidupan pribadi pegawai, di sisi lain, terdapat pula yang menyayangkan bahwa penggunaan media sosial kadang justru merugikan reputasi orang berdasarkan asumsi yang tidak berdasar.
Peristiwa ini menjadi pelajaran penting tentang bahaya membuat kesimpulan dengan kondisi terburu-buru hanya berdasarkan sebuah foto di ruang publik, apalagi dalam hal ini berkaitan dengan profesi seperti pramugara dan pramugari yang seringkali berada di area publik selama mereka menjalankan tugas.
Klarifikasi dari keluarga, pegawai, dan manajemen KAI menunjukkan bahwa keberadaan mereka hanya sebatas menunggu waktu kerja, bukanlah sebuah hubungan romantis yang tidak pantas seperti yang dituduhkan.
Kasus ini menggarisbawahi pentingnya menjaga etika digital dan menyampaikan berita yang adil, terutama bagi para pekerja yang memberikan pelayanan publik, KAI juga berkomitmen untuk mempertahankan profesionalisme dan memberikan perlindungan bagi pegawainya dari tuduhan yang merugikan tanpa bukti yang jelas. Dzafir Kirana Adelia
Editor : Imron Arlado