Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Ekspor Alas Kaki dari Indonesia Sekali Lagi Dikembalikan , Terdeteksi Adanya Elemen Radioaktif Cs-137

Imron Arlado • Jumat, 14 November 2025 | 02:34 WIB

 

Produk sepatu yang diproduksi di Indonesia ditolak oleh Amerika Serikat karena adanya radiasi Cs-137. Pemerintah segera mencari asal mula kontaminasi dan melakukan proses dekontaminasi yang besar.
Produk sepatu yang diproduksi di Indonesia ditolak oleh Amerika Serikat karena adanya radiasi Cs-137. Pemerintah segera mencari asal mula kontaminasi dan melakukan proses dekontaminasi yang besar.

Jawa Pos Radar Mojokerto - Kasus pencemaran radioaktif di Indonesia kembali menarik perhatian dunia internasional. Setelah adanya isu mengenai dugaan kontaminasi Cesium-137 (Cs-137) pada udang dan cengkih yang diekspor, kini seperti yang terjadi pada produk sepatu yang dikirim ke Amerika Serikat, juga ditemukan zat radioaktif yang sama.

Pengeruan ini diungkapkan oleh Bara Krishna Hasibuan, yang menjabat sebagai Ketua Bidang Diplomasi dan Komunikasi dari Satgas Penanganan Cs-137. Dia mengonfirmasi bahwa dua kontainer sepatu asal Indonesia telah terdeteksi mengandung radiasi Cs-137, dan produk-produk tersebut telah dikembalikan oleh pihak Amerika pada akhir bulan Oktober lalu.

Laporan menunjukkan bahwa sepatu-sepatu tersebut berasal dari sekitar Cikande, Kabupaten Serang, Banten. Kawasan tersebut sebelumnya sudah menjadi perhatian akibat ditemukannya sumber radiasi di dekat pabrik PT PMT. Walaupun lokasi pabrik sepatu tersebut terletak sekitar lima kilometer dari sumber radiasi, hasil pengujian menunjukkan adanya jejak paparan yang signifikan.

 

 

Situasi ini menunjukkan bahwa dampak pencemaran tidak hanya terbatas pada wilayah di sekitar sumber, tetapi juga dapat menyebar melalui jalur produksi industri. Pihak pemerintah kini lebih serius mencermati potensi dampak Cs-137 terhadap komoditas ekspor Indonesia lainnya.

Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) bersama dengan Satgas Cs-137 sedang melakukan penyelidikan. Hingga saat ini, sebanyak 22 fasilitas industri di kawasan Cikande dinyatakan “ bersih ”. Namun, tujuh lokasi lainnya masih dalam tahap dekontaminasi dan pemantauan yang ketat.

Paparan radiasi pada sepatu pertama kali tersebut diketahui dari laporan dari Amerika Serikat. Hasil pemeriksaan menunjukkan tingkat paparan mencapai 110 nanoSievert per jam, yang jauh melebihi kadar normal latar belakang yang hanya sekitar 20 nanoSievert per jam. Meskipun angka ini cukup mengkhawatirkan, namun belum sampai pada level yang membahayakan kesehatan manusia secara langsung.

 

 

Bapeten menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung untuk menentukan bagaimana Cs-137 dapat mencemari bahan atau proses pembuatan sepatu itu. Ada dugaan kuat bahwa partikel radioaktif tersebut mungkin berpindah melalui udara atau air dari lokasi sumber yang bocor, dan kemudian menempel pada bahan baku yang ada di pabrik sekitarnya.

Di sisi lain, Kementerian Perindustrian menegaskan bahwa semua produk yang keluar dari kawasan industri kini diwajibkan untuk menjalani pemeriksaan radiasi sebelum dikirimkan. Kebijakan ini diambil demi menjaga reputasi produk Indonesia di pasar global agar tidak ditolak oleh negara-negara tujuan ekspor.

Peristiwa ini memunculkan kekhawatiran mengingat citra industri manufaktur dalam negeri dapat tercoreng. Dari sudut pandang ekonomi, penolakan produk ekspor dapat berakibat pada kerugian besar, terutama bagi industri yang padat karya seperti sepatu. Banyak tenaga kerja yang bergantung pada industri ini untuk mencari nafkah.

Namun, di balik masalah ini, peristiwa ini juga memberikan peringatan penting bagi semua pihak bahwa keselamatan dan standar keamanan industri harus menjadi prioritas utama. Pengawasan terhadap bahan baku, sistem ventilasi, dan pengelolaan limbah di kawasan industri harus diperketat untuk mencegah masalah serupa di masa depan.

 

 

Pemerintah berkomitmen untuk memperluas area pemantauan radiasi di Banten dan sekitarnya serta mempercepat upayaPemulihan lingkungan di lokasi yang mempengaruhi. Selain itu, masyarakat di daerah tersebut juga akan diberikan edukasi mengenai bahaya radiasi dan cara menjaga diri mereka. 

Kontaminasi Cs-137 dalam produk yang diekspor menjadi contoh bagaimana kegagalan di sektor industri dapat berdampak luas secara global. Di zaman perdagangan bebas saat ini, tidak hanya kualitas produk yang harus diperhatikan, tetapi juga aspek keamanan, kebersihan, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Jika tidak segera diperbaiki, bukan tidak mungkin citra ekspor Indonesia di dunia akan berdampak lebih parah. Kasus sepatu Cikande ini harusnya menjadi momentum untuk memperkuat pengawasan serta menjamin bahwa setiap barang “Made in Indonesia” benar-benar aman,bukan hanya untuk pasar internasional, tetapi juga untuk warga di dalam negeri. Okta

Editor : Imron Arlado
#industri #sepatu #ekspor #Radioaktif Cesum 137 #bapeten #Cikande