Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Menelusuri Tradisi Pawai Ogoh Ogoh di Bali sebagai Simbol Penyucian Diri Menjelang Hari Nyepi

Imron Arlado • Minggu, 9 November 2025 | 20:18 WIB

 

Bali dikenal sebagai pulau yang kaya akan budaya dan tradisi yang sarat makna spiritual. sumber foto: pinterets
Bali dikenal sebagai pulau yang kaya akan budaya dan tradisi yang sarat makna spiritual. sumber foto: pinterets

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Bali dikenal sebagai pulau yang kaya akan budaya dan tradisi yang sarat makna spiritual. Salah satu tradisi paling ikonik yang selalu dinantikan masyarakat dan wisatawan adalah Pawai Ogoh ogoh. 

Sebuah perayaan menjelang Hari Raya Nyepi yang menggambarkan keseimbangan antara kebaikan dan kejahatan dalam kehidupan manusia. Tradisi ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga memiliki nilai filosofis yang mendalam tentang penyucian diri dan alam semesta.

Ogoh ogoh sendiri merupakan patung besar yang dibuat dari bahan-bahan seperti bambu, kayu, dan kertas, lalu dibentuk menyerupai raksasa atau makhluk menyeramkan. 

Wujudnya melambangkan Bhuta Kala, yaitu simbol dari kekuatan jahat dan sifat-sifat negatif manusia seperti amarah, keserakahan, dan kebencian. Pembuatan Ogoh-ogoh biasanya dilakukan secara gotong royong oleh para pemuda banjar (kelompok masyarakat adat di Bali), dimulai beberapa minggu sebelum Hari Nyepi.

Pawai Ogoh ogoh digelar pada malam Pengerupukan, sehari sebelum Nyepi. Pada hari itu, suasana Bali berubah menjadi sangat meriah. Jalan-jalan dipenuhi masyarakat yang berkumpul untuk menyaksikan arak-arakan Ogoh-ogoh yang diiringi gamelan baleganjur dan sorak gembira penonton. 

Ogoh-ogoh diarak berkeliling desa sambil digoyang-goyangkan, seolah sedang berperang dengan kekuatan tak kasat mata. Guncangan ini melambangkan pengusiran roh-roh jahat dari lingkungan sekitar.

 

Baca Juga: Hakim Tipikor Singgung Praktik Pinjam Bendera Kapal TBM, Ahli LKPP: Itu Bentuk Persekongkolan

 

Menariknya, setiap Ogoh-ogoh memiliki desain yang berbeda dan sering kali disesuaikan dengan isu sosial, lingkungan, atau pesan moral yang ingin disampaikan. 

Beberapa Ogoh-ogoh menggambarkan tokoh mitologi Hindu seperti Rahwana atau Rangda, sementara yang lain bisa mencerminkan perilaku manusia modern yang dianggap menyimpang dari nilai spiritual. 

Setelah pawai selesai, sebagian besar Ogoh-ogoh akan dibakar sebagai simbol pemusnahan energi negatif, agar dunia menjadi bersih dan seimbang kembali menjelang Nyepi.

Makna terdalam dari tradisi ini adalah penyucian diri dan alam semesta. Pawai Ogoh-ogoh menjadi refleksi bagi umat Hindu Bali untuk merenungi segala perbuatan selama setahun terakhir, membersihkan diri dari sifat buruk, dan memulai kehidupan baru dengan hati yang bersih. 

Setelah malam penuh hiruk pikuk itu, keesokan harinya masyarakat menjalani Hari Nyepi dalam keheningan total dan tanpa aktivitas, tanpa api, tanpa hiburan, dan tanpa perjalanan.

Kontras antara kegaduhan Pawai Ogoh-ogoh dan keheningan Nyepi menggambarkan keseimbangan hidup manusia: bahwa setelah menghadapi kekacauan duniawi, diperlukan waktu untuk menenangkan batin dan menyatu dengan alam. 

 

Baca Juga: Tiga Ahli Sebut Bangunan Kapal TBM Kota Mojokerto Tak Layak Dilanjutkan

 

Tradisi ini menunjukkan kebijaksanaan leluhur Bali dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Melalui Pawai Ogoh-ogoh, Bali tidak hanya mempertahankan warisan budaya yang megah, tetapi juga menyampaikan pesan universal tentang pentingnya introspeksi, keseimbangan, dan pembersihan jiwa. 

Inilah yang menjadikan tradisi ini bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang menyentuh hati setiap orang yang menyaksikannya. AILEEN

 

Editor : Imron Arlado
#bali #budaya #ogoh ogoh #Mitologi Hindu #hari raya nyepi