JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Gunung Semeru, yang merupakan puncak tertinggi di Pulau Jawa dan terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menunjukkan tanda-tanda aktivitas vulkanik yang sangat intens pada bulan Oktober 2025.
Dalam beberapa hari terakhir, gunung ini telah tercatat mengalami beberapa letusan dan erupsi dengan tingkat intensitas yang cukup tinggi.
Sebagai contoh, pada 27 Oktober 2025, Gunung Semeru mengalami letusan yang sangat besar dengan abu vulkanik yang terlihat mencapai ketinggian hingga 700 meter di atas puncaknya.
Aktivitas erupsi ini terdeteksi oleh seismograf dengan amplitudo maksimum yang mencapai 22 mm dan berlangsung selama kurang lebih dua menit.
Letusan tersebut juga diiringi oleh aliran lava pijar yang meluncur sejauh 2.000 meter menuju Besuk Kobokan, yang merupakan salah satu jalur aliran lava dari gunung ini.
Dalam 24 jam hingga pagi tanggal 29 Oktober, stasiun observasi Gunung Semeru melaporkan hingga 115 kali terjadinya gempa letusan dengan amplitudo 10-22 mm, menunjukkan adanya pergerakan magma yang aktif di dalam kawah.
Jumlah total letusan yang tercatat selama satu minggu terakhir bahkan melebihi 100 kali, mengindikasikan bahwa aktivitas Gunung Semeru masih sangat tinggi dan berisiko.
Aktivitas vulkanik ini menyebabkan keluarnya abu vulkanik yang bergerak ke arah barat daya, yang sejak awal bulan Oktober telah teramati dengan ketinggian kolom abu mencapai antara 300 hingga seribu meter di atas puncak gunung.
Selain itu, suara guntur dengan tingkat intensitas rendah hingga sedang juga dapat didengar sebagai tanda dari aktivitas yang kuat di dalam gunung.
Aliran awan panas dan risiko banjir lahar menjadi bahaya utama bagi penduduk di sekitar lereng Semeru.
Sebagai tindakan pencegahan, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengumumkan status Gunung Semeru dalam Level II atau Waspada.
Mereka mengimbau masyarakat untuk menghindari area berisiko yaitu jarak 8 kilometer dari puncak gunung dan 500 meter dari tepi sungai, khususnya di aliran Besuk Kobokan, karena adanya potensi awan panas serta banjir lahar yang sangat mengkhawatirkan.
Pos pemantauan juga terus mengamati gempa tectonic jarak jauh dan gempa embusan sebagai tanda perkembangan aktivitas Gunung Semeru.
Kondisi ini mengharuskan masyarakat dan pemerintah daerah untuk selalu waspada dan cepat bertindak saat tanda-tanda adanya erupsi besar terlihat.
Beberapa penerbangan dan kegiatan pariwisata di daerah kaki gunung pun sempat terpengaruh karena dibatasinya akses ke wilayah tersebut.
Langkah evakuasi dan penyuluhan tentang bahaya telah ditingkatkan untuk meminimalisir kemungkinan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur akibat letusan.
Devi
Editor : Imron Arlado