JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Ki Anom Suroto adalah dalang legendaris yang dikenal luas dalam dunia pedalangan wayang kulit di Indonesia.
Lahir dengan nama Kanjeng Raden Tumenggung Haryo Lebdo Nagoro pada 11 Agustus 1948 di Klaten, ia mulai belajar ilmu pedalangan sejak usia 12 tahun dari ayahnya, Ki Sadiyun Harjadarsana, serta mendapatkan ilmu dari dalang senior lainnya seperti Ki Nartasabdo.
Selain belajar secara tradisional, Ki Anom Suroto juga menuntut ilmu melalui berbagai lembaga.
Ki Anom Suroto mengikuti Kursus Pedalangan Himpunan Budaya Surakarta, Pasinaon Dalang Mangkunegaran, Pawiyatan Kraton Surakarta, dan Habiranda di Yogyakarta. Ia bahkan menggunakan nama samaran Margono saat belajar di Habiranda.
Ki Anom Suroto mulai tampil di Radio Republik Indonesia (RRI) sejak tahun 1968 dan sejak itu dikenal sebagai dalang yang sangat berbakat. Pada tahun 1978, ia diangkat sebagai abdi dalem Penewu Anon-anon dengan gelar Mas Ngabehi Lebdocarito.
Kariernya semakin tinggi ketika ia menjadi satu-satunya dalang yang pernah mendalang di lima benua, termasuk Amerika Serikat pada tahun 1991 untuk pameran Kebudayaan Indonesia, serta berbagai negara lain seperti Jepang, Spanyol, Jerman Barat, Australia, Rusia, India, Nepal, Thailand, Mesir, dan Yunani.
Ia juga menerima penghargaan Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Soeharto pada tahun 1995 sebagai pengakuan atas dedikasinya dalam melestarikan budaya Indonesia.
Selain kiprahnya di pentas nasional dan internasional, Ki Anom Suroto aktif dalam organisasi pedalangan sebagai Ketua III Pengurus Pusat PEPADI periode 1996-2001. Ia juga dikenal sebagai Bupati Sepuh dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Lebdonagoro sejak 1997.
Sebagai maestro dalang, ia tidak hanya mahir mendalang, tetapi juga menciptakan berbagai gending Jawa dan sanggit lakon sendiri, termasuk karya-karya yang mengangkat tema kebudayaan dan kepahlawanan.
Tragisnya, pada 23 Oktober 2025, dunia seni pedalangan Indonesia berduka atas meninggalnya Ki Anom Suroto di usia 77 tahun setelah dirawat di RS dr Oen Kandang Sapi, akibat serangan jantung dan komplikasi diabetes.
Kepergian beliau meninggalkan inspirasi besar bagi pelaku seni tradisi, khususnya dunia wayang kulit.
Ki Anom Suroto dikenang sebagai dalang yang membawa seni pedalangan Indonesia ke panggung dunia, berperan penting dalam mempertahankan dan mengembangkan kesenian tradisional yang kaya akan filosofi dan nilai budaya.
Warisan seni dan dedikasinya akan terus menjadi inspirasi bagi generasi muda dalang dan pecinta budaya nusantara. Wulandari/FADYA
Editor : Imron Arlado