JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di hampir seluruh belahan dunia ini, berbagai gunung berdiri kokoh dengan keindahan panorama dan kisah unik di baliknya.
Namun, dari banyaknya gunung di dunia, ada beberapa gunung yang tidak bisa didaki oleh para pendaki dan pemandangannya hanya bisa dinikmati dari kejauhan.
Salah satu contoh nyatanya adalah gunung Machapuchare, sebuah gunung ikonik di Pegunungan Annapurna yang puncaknya mudah dikenali karena mirip dianggap mirip dengan ekor ikan.
Kemiripannya dengan ekor ikan tersebutlah yang kemudian memunculkan sebutan "Machapuchare" dalam bahasa Nepal yang artinya fishtail atau ekor ikan.
Di antara banyaknya puncak gunung yang telah ditaklukkan oleh ribuan pendaki dari seluruh dunia, Machapuchare tetap berbeda karena puncaknya tidak boleh didaki.
Larangan tersebut memberi nuansa misteri dan penghormatan, sehingga para pendaki yang berkunjung ke sana bukan berniat untuk menaklukkan, melainkan untuk menyaksikan dan menghormati.
Baca Juga: Desa Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong Jadi Lokasi Pembangunan KDMP Pertama di Kabupaten
Gunung Machapuchare ini tepatnya berada di jajaran Annapurna, pegunungan Himalaya bagian barat Nepal.
Gunung Machapuchare memiliki tinggi sekitar 6.993 meter di atas permukaan laut, cukup tinggi untuk menjadi spot atau titik pemandangan luar biasa di bentang alam Annapurna.
Bentuk puncaknya yang sangat khas, yakni terdiri dari dua puncak kecil yang mirip seperti ekor ikan terbelah, membuat Machapuchare sangat fotogenik, terutama saat cahaya matahari pagi atau senja menyinari lembah dan kabut-kabut bergerak di sekitarnya.
Posisi gunung Machapuchare yang menonjol membuat gunung ini kerap kali menjadi objek utama dalam foto-foto trek menuju basecamp Annapurna atau dari titik-titik pengamatan seperti Ghorepani Poon Hill.
Bagi hampir seluruh warga lokal setempat, Machapuchare bukanlah sekedar gunung biasa. Ia dianggap suci dan berkaitan dengan ajaran agama Hindu, khususnya dihubungkan dengan Dewa Siwa.
Baca Juga: Isi Empat JPTP Lowong, Ajukan Izin ke BKN
Dalam tradisi lokal, beberapa puncak gunung dianggap sebagai tempat tinggal roh atau dewa, sehingga manusia dilarang untuk menginjakkan kaki dan mengotori tempat-tempat tersebut.
Kepercayaan dan rasa sakral ini telah diwariskan secara turun-temurun dan memengaruhi cara para penduduk memandang gunung, bukan sebuah objek yang harus ditaklukkan tetapi entitas yang harus dihormati dan dihargai.
Meski puncaknya tertutup bagi para pendaki, Machapuchare tetap menjadi daya tarik bagi para wisatawan dan pendaki.
Rute-rute trekking populer di Annapurna seperti rute menuju Annapurna Basecamp atau Annapurna Sanctuary menyajikan pemandangan dekat Machapuchare yang sangat menakjubkan.
Tak sedikit pelancong yang datang pagi-pagi atau sore untuk menyaksikan keindahan perubahan warna di puncak atau lereng Machapuchare, momen yang umumnya disebut sebagai golden hour, sunrise atau sunset.
Selain itu, viewpoint atau titik pemandangan seperti Poon Hill juga memberi pemandangan luar biasa Machapuchare yang muncul sebagai bagian dramatis dari rangkaian puncak di pegunungan Annapurna.
Aktivitas umum yang biasanya dilakukan di Machapuchare adalah trekking, fotografi lanskap atau bentang alam, dan mengunjungi serta menikmati budaya desa-desa di lereng pegunungan.
Baca Juga: JPRM Geber Event Mlaku Bareng Gus Bupati
Gunung Machapuchare menjadi contoh nyata dari gagasan bahwa keindahan alam tak selalu harus ditaklukkan.
Selain itu, Machapuchare juga mengajarkan kepada manusia bahwa rasa kagum sama kuatnya dengan rasa ingin menguasai.
Maka dari itu, akan ada nilai tersendiri saat manusia lebih memilih untuk menahan diri, memberi penghormatan, dan menghargai kepercayaan serta budaya masyarakat lokal.
Saat mengunjungi gunung Machapuchare, pengunjung pasti akan mendapatkan dua pelajaran ganda, yakni keindahan alam yang luar biasa dan pentingnya menghormati suatu budaya.
Bagi para wisatawan, gunung ini mengingatkan bahwa setiap pengalaman perjalanan tak harus selalu tentang mencapai puncak, tetapi juga tentang melihat, belajar, menghormati, dan menghargai. FANEZA/Wulandari
Editor : Imron Arlado