Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Selalu Berpura-pura Baik-Baik Saja, Apakah Itu Tanda Adaptasi atau Luka Psikologis?

Imron Arlado • Kamis, 9 Oktober 2025 | 02:53 WIB
Di kehidupan sehari-hari, tak jarang orang yang menjalani rutinitas dengan bahagia, percaya diri, dan aktif di lingkungan sosialnya. Sumber foto: Google
Di kehidupan sehari-hari, tak jarang orang yang menjalani rutinitas dengan bahagia, percaya diri, dan aktif di lingkungan sosialnya. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di kehidupan sehari-hari di dunia ini, tak jarang orang yang menjalani rutinitas dengan bahagia, percaya diri, dan aktif di lingkungan sosialnya.

Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, mereka merasa lelah, cemas, sedih, atau bahkan kesepian.

Fenomena ini bukanlah sebuah hal yang tabu, melainkan sebuah hal yang sudah sangat umum terjadi di era kehidupan modern, ketika citra diri seolah harus tampak "baik-baik saja".

Di tengah budaya serba cepat yang menuntut kesempurnaan, banyak individu akhirnya memutuskan untuk menutupi sisi asli dirinya agar tetap diterima lingkungan sosial dan tidak dianggap "berbeda".

Fenomena seperti ini kerap kali disebut dengan masking, yakni perilaku menyembunyikan jati diri demi memenuhi ekspektasi sosial.

Masking bukanlah suatu hal yang baru, bahkan sudah terjadi sejak dahulu. Namun, keberadaannya semakin terlihat jelas sejak media sosial menjadi ruang utama dalam kehidupan banyak orang.

Secara psikologis, masking adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk memakai topeng sosial atau menyembunyikan jati dirinya dari lingkungan sosial.

 

Baca Juga: Desa Mojowiryo, Kecamatan Kemlagi Berkreasi Sulap Sampah Bambu Jadi Miniatur Kapal Pinisi

 

Orang-orang biasanya menampilkan versi dirinya yang terbaik agar bisa tetap dianggap aman dan diterima oleh lingkungan sosial.

Masking juga dapat dilakukan secara sadar dan tidak sadar, contohnya seperti saat seseorang yang introvert berusaha tampil ceria dan supel karena takut dianggap tidak ramah, atau saat seseorang menyembunyikan emosi negatif karena takut dianggap terlalu sensitif.

Fenomena ini memperlihatkan secara jelas adanya jarak antara "diri asli" dan "diri sosial".

Dalam segi psikologi sosial, masking juga diartikan sebagai bentuk mekanisme adaptasi yang muncul karena manusia pada dasarnya ingin selalu diterima oleh lingkungan atau kelompoknya.

Namun, jika dilakukan terus-menerus dalam jangka panjang, perilaku ini dapat memicu terjadinya kehilangan identitas diri sendiri.

Ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya perilaku ini, yang pertama adalah adanya tekanan sosial dan budaya.

Tak sedikit wilayah-wilayah di dunia ini menerapkan banyak norma yang menuntut seseorang untuk selalu bersikap baik, sopan, kuat, dan ceria di segala situasi.

 

Baca Juga: Gagalkan Peredaran Sabu, Lima BM Diapresiasi

 

Norma-norma tersebut akhirnya membentuk individu yang merasa harus menekan perasaannya sendiri agar selalu sesuai dengan harapan sosial.

Yang kedua, media sosial juga bisa memberi pengaruh dan menjadi faktor pemicu terjadinya fenomena ini karena platform digital seringkali menjadi tempat di mana orang-orang menampilkan versi terbaik kehidupannya.

Karena sudah terbiasa melihat kehidupan sempurna orang lain, seseorang menjadi terdorong untuk menciptakan citra yang sama, meskipun tak sepenuhnya nyata.

Pengalaman pribadi dan trauma sosial juga menjadi salah satu faktor pemicu yang paling umum terjadi dalam konteks ini.

Individu yang pernah diremehkan, ditolak, atau dikritik karena menunjukkan jati dirinya biasanya akan menyesuaikan diri dan memendam jati dirinya agar tidak disakiti lagi.

Yang terakhir, dalam situasi profesional di lingkungan kerja dan akademik, terkadang cukup banyak orang yang merasa harus menahan pendapat, ekspresi, atau gaya pribadinya agar tetap terlihat profesional dan tidak menimbulkan konflik.

 

Baca Juga: Membangun Rumah, Membangun Cinta Filosofi Kehidupan di Balik Lagu Sal Priadi 

Masking memiliki dua sisi yang perlu diperhatikan, yakni ia bisa membantu seseorang untuk bertahan dan menyesuaikan diri di lingkungan sosial.

Namun di sisi lain, masking yang dilakukan secara berlebihan akan menimbulkan tekanan batin seperti kelelahan emosional karena harus terus berpura-pura menjadi sosok yang bukan dirinya.

Selain itu, masking juga dapat memicu rasa rendah diri jika seseorang tidak memakai topeng tersebut, seolah dirinya sendiri tidak cukup.

Dalam jangka waktu panjang, masking mampu menurunkan kesehatan mental seseorang, seperti stres, cemas berlebihan, depresi, hingga kehilangan arah dan jati dirinya.

Cara mengenali dan mengurangi masking dapat dimulai dari kejujuran terhadap diri sendiri.

Salah satu tanda masking yang paling umum adalah ketika seseorang selalu merasa lelah setelah berinteraksi.

Bukan karena kegiatan tersebut melelahkan secara fisik, tetapi karena harus terus-menerus berpura-pura selama interaksi.

Mengurangi masking berarti sama dengan belajar untuk menerima diri sendiri apa adanya.

Hal ini bukan berarti harus mengekspresikan semuanya tanpa filter, melainkan berani untuk menampilkan diri sendiri dengan lebih jujur dan asli tanpa takut ditolak.

 

Baca Juga: Pemkab Tuntaskan Perbaikan Infrastruktur Jalan Sepanjang 9,4 Km

 

Dalam konteks ini, lingkungan juga memiliki peran yang besar. Ketika seseorang dikelilingi oleh orang-orang yang mampu menerima apa adanya tanpa menghakimi, keinginan untuk terus memakai topeng akan semakin berkurang.

Belajar melepaskan topeng bukan berarti melawan dunia, tetapi memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas lega tanpa tekanan untuk terus tampil sempurna.

FANEZA/Wulandari

Editor : Imron Arlado
#mengurangi #masking #menyembunyikan jati diri #tanda masking #dua sisi #Kehidupan modern #dampak #psikologis #faktor #cara mengenali #topeng sosial