JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Antisocial Personality Disorder (ASPD) atau gangguan kepribadian antisosial merupakan salah satu gangguan kepribadian yang kompleks dan sering disalahpahami.
Penderitanya cenderung menunjukkan pola perilaku yang mengabaikan norma sosial, melanggar hak orang lain, serta memiliki empati yang sangat rendah.
Mereka sering terlihat menawan dan percaya diri di permukaan, namun di balik itu terdapat kecenderungan manipulatif dan eksploitasi terhadap orang lain untuk kepentingan pribadi. Gangguan ini biasanya mulai tampak sejak masa remaja, meski gejalanya baru dapat didiagnosis secara resmi setelah usia 18 tahun.
Salah satu tanda awal yang sering muncul adalah conduct disorder atau perilaku menyimpang pada masa anak-anak, seperti berbohong, mencuri, berkelahi, atau menyakiti hewan tanpa rasa bersalah.
Saat beranjak dewasa, perilaku tersebut berkembang menjadi pola kehidupan yang penuh pelanggaran hukum dan kesulitan mempertahankan hubungan sosial yang sehat.
Ciri utama dari seseorang dengan Antisocial Personality Disorder adalah kurangnya empati. Mereka tidak mampu merasakan atau memahami perasaan orang lain, serta cenderung memandang hubungan sosial sebagai sarana untuk mencapai tujuan pribadi.
Selain itu, mereka sering kali menunjukkan perilaku impulsif, mudah marah, dan tidak bertanggung jawab terhadap tindakannya. Dalam konteks sosial, mereka bisa tampak menawan atau karismatik, namun hal ini sering digunakan sebagai alat untuk memanipulasi orang lain.
Baca Juga: Anggota Turjawali Gagalkan Narkoba Siap Edar, Kapolres Mojokerto Kota Berikan Penghargaan
Perilaku manipulatif menjadi ciri khas lain dari ASPD. Penderitanya pandai membaca situasi dan memahami kelemahan orang lain untuk dimanfaatkan. Mereka dapat berbohong tanpa rasa bersalah, menipu demi keuntungan pribadi, atau menggunakan daya tarik emosional untuk mendapatkan kepercayaan orang lain.
Hubungan interpersonal mereka sering kali bersifat dangkal, tidak didasari kasih sayang yang tulus, dan berakhir ketika kebutuhan mereka terpenuhi. Penyebab Antisocial Personality Disorder bersifat multifaktor, melibatkan kombinasi antara faktor genetik, lingkungan, dan pola asuh.
Studi menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan, pengabaian, atau tanpa figur orang tua yang stabil memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan ini.
Faktor biologis seperti ketidakseimbangan neurotransmitter di otak juga diyakini berperan dalam munculnya perilaku impulsif dan agresif. Penanganan ASPD tergolong menantang karena sebagian besar penderita tidak menyadari adanya masalah pada diri mereka.
Mereka jarang mencari bantuan secara sukarela dan sering kali hanya menjalani terapi karena tuntutan hukum. Namun, terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) dapat membantu mengelola perilaku agresif dan meningkatkan kesadaran diri.
Baca Juga: Desa Kemantren, Kecamatan Gedeg Latih Kader Pangan Lestari, Tingkatkan Hasil Panen Sayuran
Dukungan sosial yang konsisten serta lingkungan yang stabil juga berperan penting dalam membantu proses perubahan perilaku. Antisocial Personality Disorder bukan sekadar masalah “nakal” atau “tidak peduli”.
Ini adalah gangguan kepribadian serius yang dapat berdampak besar terhadap kehidupan penderitanya dan orang-orang di sekitarnya. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang gangguan ini, masyarakat dapat mengurangi stigma, meningkatkan kewaspadaan, dan mendorong penanganan yang lebih manusiawi bagi individu yang mengalaminya. AILEEN
Editor : Imron Arlado