JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan terdapat 2.107 peristiwa bencana yang melanda Indonesia sepanjang tahun 2024. Jumlah ini menurun dibandingkan catatan pada 2023, meskipun bencana hidrometeorologi—seperti banjir, longsor, dan cuaca ekstrem—masih menjadi yang paling sering terjadi.
Penurunan ini sekaligus memunculkan pertanyaan baru: sejauh mana program mitigasi pemerintah berhasil menekan risiko, dan bagaimana tingkat kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan bencana dapat terus diperkuat.
Dari ribuan bencana yang tercatat sepanjang 2024, banjir menempati posisi teratas sebagai kejadian paling sering, kemudian diikuti oleh tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, serta angin kencang.
Baca Juga: PT Calvary Abadi Raih Penghargaan Perusahaan Tertib Ukur dari Gus Bupati
Sebagian besar peristiwa ini dipicu oleh cuaca ekstrem dan kondisi lingkungan yang rentan, dengan Jawa, Sumatra, dan Sulawesi sebagai wilayah yang paling sering terdampak. Di sisi lain, ancaman gempa bumi masih menghantui sejumlah daerah, mengingat potensi kerusakan besar yang bisa ditimbulkannya sewaktu-waktu.
Sepanjang 2024, Jawa Barat tercatat sebagai provinsi dengan jumlah bencana terbanyak, disusul Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra Barat. Faktor kepadatan penduduk yang tinggi serta kondisi geografis yang rawan banjir dan longsor menjadi penyebab utama tingginya angka kejadian di wilayah tersebut.
Sementara itu, Kalimantan dan Papua menunjukkan catatan bencana yang relatif lebih sedikit, meski tetap berhadapan dengan ancaman kebakaran hutan maupun potensi gempa bumi yang tidak bisa diabaikan.
Sepanjang 2024, pemerintah bersama BNPB menyebut berbagai langkah mitigasi mulai memperlihatkan hasil nyata. Sistem peringatan dini diperkuat, pembangunan infrastruktur pengendali banjir digencarkan, dan pelatihan evakuasi rutin digelar di daerah rawan. Upaya tersebut dinilai berkontribusi pada berkurangnya jumlah korban jiwa.
Baca Juga: Diduga Sepuluh Kali Rudapaksa Anak Tetangga
Meski begitu, sejumlah kalangan menilai implementasinya belum sepenuhnya merata, sebab masih terdapat daerah yang kekurangan fasilitas tanggap darurat dan lebih banyak mengandalkan solidaritas serta inisiatif masyarakat setempat.
Tren menurunnya jumlah bencana di 2024 memang memberi harapan, namun tantangan di depan tetap tidak ringan. Faktor perubahan iklim, urbanisasi yang kerap abai terhadap perencanaan, hingga lemahnya pengawasan tata ruang masih berpotensi memicu bencana dengan dampak lebih besar.
Karena itu, para pengamat menilai diperlukan evaluasi menyeluruh serta penguatan regulasi, agar tren positif ini berkelanjutan sekaligus menjamin perlindungan optimal bagi masyarakat yang hidup di kawasan paling rawan. BINTANG PURNAMA.
Editor : Imron Arlado