JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Tragedi amblasnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo meninggalkan duka mendalam sekaligus mengguncang perhatian publik. Insiden yang terjadi pada Jumat (3/10) siang tersebut menelan korban jiwa, sementara puluhan santri lainnya berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Hingga malam hari, tim SAR bersama aparat gabungan masih terus berjibaku di lokasi untuk mencari kemungkinan korban yang terjebak di bawah reruntuhan. Di sisi lain, perhatian masyarakat kini tertuju pada kronologi lengkap kejadian, keabsahan izin pendirian bangunan, hingga sejauh mana pihak pengelola pesantren bertanggung jawab atas peristiwa memilukan ini.
Sejak siang, tim gabungan yang melibatkan Basarnas, BPBD, TNI, hingga Polri tak henti-hentinya melakukan evakuasi di lokasi kejadian. Setiap santri yang berhasil dikeluarkan dari reruntuhan langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan intensif.
Proses pencarian dilakukan dengan penuh kewaspadaan, mengingat kondisi bangunan yang masih rawan runtuh. Di sisi lain, aparat juga terus memperbarui pendataan korban, baik yang selamat maupun yang meninggal dunia, agar informasi resmi dapat segera disampaikan secara akurat kepada publik.
Baca Juga: Hakim Tipikor Turun ke Lapangan, Sidang Pemeriksaan Setempat Berlangsung di Kapal TBM Kota Mojokerto
Kesaksian sejumlah orang di lokasi menyebutkan, bangunan utama pondok pesantren tiba-tiba amblas tepat saat kegiatan belajar mengaji sedang berlangsung. Kejadian mendadak itu membuat beberapa santri terjebak di ruang kelas tanpa sempat menyelamatkan diri, sehingga menyulitkan upaya evakuasi.
Situasi panik pun tak terhindarkan, dengan teriakan minta tolong terdengar dari dalam reruntuhan. Meski demikian, kondisi mulai berangsur terkendali setelah tim penyelamat berhasil membuka akses puing-puing bangunan dan mengevakuasi para santri yang tertahan di dalamnya.
Peristiwa ambruknya bangunan ini memunculkan banyak pertanyaan mengenai kelayakan konstruksi serta sejauh mana pengawasan dilakukan terhadap fasilitas pendidikan keagamaan. Dugaan adanya kelemahan struktur maupun kelalaian dalam proses pembangunan pun mulai mencuat ke permukaan.
Pemerintah daerah bersama aparat kepolisian telah memulai langkah penyelidikan awal, salah satunya dengan menelusuri dokumen izin pendirian dan standar teknis bangunan pesantren.
Di tengah proses tersebut, sorotan publik kian menguat terhadap pihak pengelola, yang dinilai memiliki tanggung jawab besar atas keselamatan para santri maupun keberlangsungan aktivitas pendidikan di dalamnya.
Dalam suasana duka yang menyelimuti, keluarga para santri berbondong-bondong mendatangi lokasi kejadian untuk mencari kabar terbaru tentang kerabat mereka. Raut cemas bercampur haru tampak jelas di sekitar pondok pesantren yang kini dipenuhi aparat dan relawan.
Di tengah keterbatasan, warga sekitar turut bergerak membantu dengan menyediakan logistik, makanan, hingga penerangan darurat untuk memudahkan proses evakuasi yang berlangsung hingga malam.
Gelombang dukungan baik secara moral maupun material terus berdatangan, memperlihatkan kuatnya solidaritas masyarakat dalam menghadapi musibah yang menimpa para santri dan keluarganya.
Baca Juga: Sepuluh Jabatan Eselon II Lowong Dilelang
Runtuhnya bangunan Ponpes Al Khoziny menjadi pelajaran berharga sekaligus peringatan keras tentang pentingnya penerapan standar keselamatan yang ketat pada setiap fasilitas pendidikan, khususnya lembaga keagamaan.
Musibah ini bukan hanya merenggut nyawa dan melukai fisik, tetapi juga menorehkan trauma mendalam bagi para santri serta keluarga yang ditinggalkan.
Masyarakat luas kini menaruh harapan agar tragedi serupa tidak terulang, dengan adanya evaluasi menyeluruh terhadap kelayakan bangunan pesantren di berbagai daerah serta peningkatan pengawasan dari pihak berwenang.
Upaya itu dinilai krusial demi menjamin keselamatan generasi muda yang menempuh pendidikan di lingkungan pesantren. BINTANG PURNAMA.
Editor : Imron Arlado