Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Evakuasi Musala Pondok Pesantren Hampir Usai, 108 Korban Ditemukan Selamat, 5 Santri Meninggal Dunia

Imron Arlado • Jumat, 3 Oktober 2025 | 01:06 WIB
Keruntuhan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo mengakibatkan kehilangan lima nyawa, sementara 108 individu berhasil dievakuasi, dan proses evakuasi berlangsung dalam batas waktu kritis.
Keruntuhan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo mengakibatkan kehilangan lima nyawa, sementara 108 individu berhasil dievakuasi, dan proses evakuasi berlangsung dalam batas waktu kritis.

Jawa Pos Radar Mojokerto - Musibah runtuhnya gedung mushola Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, meninggalkan kesedihan yang mendalam.

Hingga Kamis (2/9), sebanyak 108 orang telah berhasil diselamatkan, dengan rincian 103 orang mengalami cedera dan 5 orang dilaporkan meninggal dunia.

Insiden tragis ini berlangsung pada Senin (29/9) sore ketika ratusan santri sedang melangsungkan shalat ashar berjamaah.

Bangunan mushola yang memiliki tiga lantai dan sedang dalam tahap pembangunan tambahan tiba-tiba jatuh menimpa para santri. Diperkirakan, struktur lama tidak mampu menahan beban yang baru ditambahkan, sehingga menyebabkan runtuhnya bangunan secara mendadak.

 

Evakuasi dengan Risiko Tinggi

Sejak awal, tim yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, relawan, dan BPBD berjuang untuk melakukan penyelamatan. Proses evakuasi dilakukan dengan tangan secara hati-hati karena khawatir reruntuhan dapat menimpa baik korban maupun tim penyelamat.

Namun, setelah dua hari mencari tanpa hasil yang berarti, tim SAR memutuskan untuk menggunakan peralatan berat berupa lima crane. Keputusan ini diambil setelah adanya koordinasi dengan BNPB dan keluarga korban.

Mereka menyetujui bahwa penggunaan peralatan berat perlu dilakukan untuk mempercepat upaya pencarian, meskipun membawa risiko yang besar.

 

Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, mengungkapkan bahwa penggunaan crane dilakukan dengan sangat berhati-hati.

“Kita tidak bisa sembarangan mengangkat reruntuhan karena khawatir ada korban lain di bawahnya. Namun waktu terus berjalan, dan waktu yang berharga semakin berkurang,” ujarnya.

 

Golden Time Hampir Habis

Konsep golden time dalam misi penyelamatan merujuk pada periode 72 jam pertama setelah insiden terjadi.

Dalam periode ini, kemungkinan menemukan orang yang masih hidup jauh lebih tinggi. Namun, seiring berjalannya waktu, harapan menjadi semakin kecil.

Hingga siang hari Kamis, tim yang terdiri dari berbagai pihak masih berupaya sekuat tenaga. Walaupun beberapa pakar konstruksi memprediksi sangat kecil kemungkinan adanya korban yang masih selamat, keluarga tetap berharap akan ada keajaiban.

Tangisan dan doa dari orang tua serta saudara korban terus terdengar di pusat krisis yang terletak sekitar 200 meter dari tempat kejadian.

 

Korban dan Dampak

Selain dari kehilangan jiwa dan cedera, sejumlah santri mengalami cedera berat, termasuk patah tulang dan trauma yang parah. Bahkan, satu di antara korban harus menjalani prosedur amputasi akibat luka yang sangat serius.

Di sisi lain, rumah sakit yang ditunjuk di Sidoarjo dan Surabaya menghadapi kesulitan dalam menangani jumlah pasien yang datang sekaligus. Para relawan medis dan psikolog juga dikerahkan untuk membantu, terutama untuk anak-anak yang mengalami trauma yang mendalam.

 

Dukungan dari Pemerintah

Melalui BNPB, pemerintah pusat menegaskan rencana untuk melakukan penilaian menyeluruh terhadap kejadian ini. Pratikno, Menteri Koordinator Bidang PMK, menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen untuk mendukung keluarga para korban dengan memberikan bantuan medis dan kompensasi.

 

Selanjutnya, pemerintah daerah berencana untuk melakukan evaluasi ulang terhadap standar keselamatan bangunan sekolah agar kejadian yang sama tidak terulang di masa depan. Sebagai tindakan pencegahan, audit konstruksi akan dilakukan di beberapa pondok pesantren yang ada di Jawa Timur.

Hingga saat ini, proses evakuasi terus berlangsung. Walaupun peluang untuk menemukan individu yang selamat kian menipis, semangat dari tim pencarian dan penyelamatan tidak pernah redup. Masyarakat juga tetap memberikan doa serta dukungan.

 

Peristiwa tragis di Ponpes Al Khoziny mengingatkan kita tentang betapa vitalnya penerapan standar keselamatan bangunan di lembaga pendidikan.

Kesedihan yang dirasakan oleh keluarga santri adalah kesedihan bersama bagi seluruh bangsa, dan semoga para korban memperoleh tempat yang terbaik disisi-Nya. Okta/Linda

Editor : Imron Arlado
#proses evakuasi #buduran sidoarjo #Mushola Pondok Pesantren Al Khoziny Sidoarjo Ambruk #santri #roboh