JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Tiga tahun silam, dunia sepak bola Indonesia dikejutkan oleh Tragedi Kanjuruhan, peristiwa memilukan yang merenggut nyawa 135 suporter. Insiden tragis ini terjadi usai pertandingan sengit antara Arema FC dan Persebaya Surabaya, ketika kepanikan meluas di dalam Stadion Kanjuruhan dan memicu kerusuhan yang tak terkendali.
Malam itu meninggalkan luka mendalam yang hingga kini masih dirasakan oleh keluarga korban, klub, serta seluruh penggemar sepak bola tanah air. Tragedi ini menjadi titik balik yang menegaskan betapa keselamatan penonton harus selalu menjadi prioritas, bahkan di tengah semangat dan sorak sorai pertandingan.
Lebih dari sekadar jumlah korban, tragedi ini menyingkap berbagai persoalan mendasar dalam pengelolaan stadion. Kepadatan di pintu keluar, kurangnya jalur evakuasi yang memadai, serta penggunaan gas air mata yang memperparah kepanikan menjadi sorotan utama.
Para pengamat dan organisasi sepak bola internasional menekankan perlunya standar keamanan yang lebih ketat, namun implementasinya masih menjadi tantangan besar bagi pihak berwenang dan pengelola stadion di Indonesia.
Keluarga korban pun terus menuntut keadilan dan perbaikan sistem. Banyak dari mereka menyuarakan pentingnya transparansi dalam investigasi dan akuntabilitas bagi pihak-pihak yang terbukti lalai.
Sementara itu, komunitas suporter berupaya mengenang korban melalui aksi sosial, doa bersama, serta kampanye keselamatan di stadion. Semangat mereka menjadi pengingat bahwa tragedi ini bukan hanya milik satu klub, tetapi duka bersama seluruh dunia sepak bola Indonesia.
Baca Juga: Uya Kuya Kembali ke Rumah setelah Penjarahan Akhir Agustus Lalu, Begini Perasaannya
Kini, tiga tahun berlalu, tetapi luka itu belum sepenuhnya sembuh. Dunia sepak bola Indonesia berusaha bangkit dengan memperketat protokol keamanan di setiap stadion dan meninjau ulang regulasi yang ada.
Meski rasa kehilangan masih membekas, tragedi ini menjadi pelajaran berharga: sorak sorai dan kegembiraan di lapangan tak boleh mengorbankan keselamatan manusia.
Tragedi Kanjuruhan akan selalu menjadi catatan kelam dalam sejarah sepak bola nasional. Malam itu, 135 nyawa menjadi saksi bisu bahwa di balik euforia pertandingan, nyawa dan keselamatan suporter adalah hal yang tak tergantikan dan harus dijaga tanpa kompromi. BINTANG PURNAMA.
Editor : Imron Arlado