JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di hampir setiap film bergenre horor maupun thriller, bahkan dalam berbagai game yang membutuhkan efek psikologis menegangkan, kita seringkali mendengar suara-suara mencekam yang mampu membuat bulu kuduk merinding.
Suara-suara tersebut bukan sekadar efek suara biasa, melainkan hasil dari instrumen musik eksperimental bernama Mega Marvin yang muncul dari usaha mengubah benda-benda logam menjadi efek suara kreatif.
Alat musik unik ini dibuat oleh Adam Morfords melalui proyek atau produsen bernama Morfbeats.
Alih-alih menghasilkan melodi instrumen tradisional, alat musik buatan Adam Morfords ini justru menciptakan tekstur bunyi dengan karakter nyaring, gema yang cukup lama, dan memiliki karakter nuansa yang kuat dari logam yang dimanfaatkan sedemikian rupa.
Karakter-karakter tersebut yang dinilai tidak ramah, menegangkan, dan mencekam, akhirnya membuat Mega Marvin kerap kali digunakan untuk membangun suasana tegang dan mencekam dalam film horror, thriller, dan game yang membutuhkan efek psikologis.
Sementara itu, sifat suara mega marvin yang menegangkan berasal dari inharmonic spectrum atau frekuensi suara yang keluar tidak membentuk sederet nada yang harmonis seperti di piano.
Ketika kita mendengar suara yang tidak harmonis dan sulit diprediksi, otak manusia akan cenderung lebih waspada dan tidak nyaman.
Selain itu, suara dari logam sendiri memiliki serapan dan pantulan suara yang panjang sehingga menciptakan gema atau "ruang" yang sangat besar dan tidak terkontrol.
Kombinasi antara ketidakpastian nada, frekuensi tinggi yang menusuk, dan gema rendah yang berat dari frekuensi nada tidak harmonis membuat bunyi dari Mega Marvin kerap kali dinilai memiliki nyawa atau sangat mengejutkan.
Baca Juga: Gunung Bromo Jadi Primadona Wisata Alam dengan Pemandangan yang Memukau, Berikut Pesonanya
Secara fisik, bentuk mega marvin lebih mirip seperti instalasi atau patung logam daripada alat musik tradisional.
Komponen mega marvin biasanya berupa rangka logam besar yang berisi berbagai elemen dan objek logam seperti batang, pipa, pelat, dan pelat dengan ukuran yang berbeda-beda.
Setiap elemen yang berada di dalam rangka logam tersebut memiliki resonansi atau gema sendiri, ada yang berdentum, berderit, dan ada pula yang bergetar panjang.
Cara memainkan alat musik ini juga cukup variatif, dipukul menggunakan mallet, digesek dengan busur, digaruk atau digores, diberi objek pemicu seperti koin dan batang besi, atau ditempel mikrofon kontak untuk menangkap efek getaran langsung.
Hasil suara mega marvin kerap kali direkam dan diproses melalui efek elektronik sehingga menghasilkan bentang suara yang kaya dan tidak terduga.
Mega marvin juga memiliki versi yang lebih berkembang, yakni ultra mega marvin. Secara garis besar, versi ultra mega marvin menampung lebih banyak elemen logam, pilihan resonator yang lebih bervariasi, dan potensi penyebaran suara yang lebih luas.
Karena ukuran dan tingkat kerumitannya yang lebih besar, ultra mega marvin lebih cocok digunakan untuk proyek berskala besar, seperti produksi film besar dan pertunjukan live yang membutuhkan dampak sonik besar.
Baca Juga: Rayakan Hari Kopi Sedunia, Kenali Sejarah dan Filosofi di Balik Secangkir Kopi yang Perlu Diketahui
Salah satu contoh penggunaan mega marvin yang kerap kali diperbincangkan adalah penggunaannya dalam proyek backsound atau latar musik game dan film horor untuk menciptakan ketegangan.
Instrumen mega marvin ini menentang pandangan tradisional tentang musik. Mereka seakan menunjukkan bahwa musik bukan hanya tentang melodi dan harmoni.
Tetapi juga tekstur, ruang, dan respons emosional dari diri seseorang yang diciptakan oleh suara.
Tak sedikit juga seniman suara dan pembuat film yang menganggap mega marvin dapat membuka kemungkinan baru untuk menulis suasana ketimbang sekedar menulis melodi.
FANEZA
Editor : Imron Arlado