JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di tengah kemajuan informasi dan teknologi, HIV/AIDS masih menjadi isu kesehatan global yang sarat stigma dan kesalahpahaman.
Banyak orang yang belum sepenuhnya memahami bagaimana virus ini menular, siapa yang berisiko, dan bagaimana cara mencegahnya secara efektif.
Tak jarang, mitos yang beredar justru memperburuk diskriminasi terhadap pengidap HIV dan menghambat upaya pencegahan.
Mengupas tuntas fakta ilmiah seputar HIV, meluruskan mitos yang menyesatkan, serta memberikan panduan praktis agar kita semua dapat lebih waspada dan peduli terhadap kesehatan seksual.
Apa Itu HIV dan AIDS?
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit. Jika tidak diobati, HIV dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), yaitu tahap akhir dari infeksi HIV yang ditandai dengan melemahnya sistem imun secara drastis.
Di Indonesia, jumlah kasus HIV/AIDS terus meningkat, terutama di kalangan populasi berisiko tinggi seperti pengguna narkoba suntik dan pekerja seks. Menurut data Kemenkes, hingga 2024 terdapat sekitar 570.000 orang yang hidup dengan HIV.
Baca Juga: Tersangka Mutilasi Mengaku Kalap, Kapolres Mojokerto: Alvin Terancam Hukuman Pidana Mati
Fakta Penting Tentang Penularan HIV
HIV hanya dapat menular melalui cairan tubuh tertentu seperti darah, air mani, cairan pra-ejakulasi, cairan vagina dan anus, serta air susu ibu (ASI).
Penularan terjadi ketika cairan tersebut masuk ke tubuh orang sehat melalui luka terbuka, selaput lendir, atau suntikan.
Beberapa cara umum penularan meliputi hubungan seksual tanpa kondom, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah yang tidak aman, serta penularan dari ibu ke bayi selama kehamilan, proses persalinan, atau melalui ASI.
Mitos yang Harus Diluruskan
Masih banyak mitos keliru yang beredar di masyarakat dan menimbulkan stigma terhadap pengidap HIV/AIDS (ODHA).
Salah satu mitos yang umum adalah anggapan bahwa HIV dapat menular melalui gigitan nyamuk, padahal faktanya virus HIV tidak dapat bertahan hidup di tubuh serangga sehingga tidak bisa menular lewat gigitan.
Mitos lainnya menyebutkan bahwa HIV bisa menular melalui pelukan atau berbagi makanan, padahal HIV tidak menyebar melalui kontak fisik biasa, alat makan, atau penggunaan toilet bersama.
Selain itu, anggapan bahwa ODHA tidak bisa hidup lama juga tidak benar.Karena dengan terapi antiretroviral (ARV) yang rutin, ODHA dapat menjalani hidup sehat dan produktif selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Alvin Mengaku Pernah Jadi Jagal Hewan Kurban, Polisi Tunggu Hasil Forensik Lanjutan Jasad Korban
Meluruskan mitos ini penting untuk mengurangi stigma dan mendukung upaya pencegahan serta perawatan HIV/AIDS secara lebih efektif
Cara Pencegahan yang Efektif
- Gunakan kondom saat berhubungan seksual untuk mencegah masuknya virus dari cairan tubuh.
- Lakukan tes HIV secara rutin, terutama bagi individu yang aktif secara seksual.
- Hindari penggunaan jarum suntik bergantian, terutama di kalangan pengguna narkoba suntik.
- Edukasi diri dan lingkungan sekitar tentang HIV/AIDS untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman.
- Dukung ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) dengan empati dan tanpa stigma agar mereka dapat hidup sehat dan bermartabat.
HIV bukanlah sekadar isu medis, tetapi juga persoalan sosial yang menuntut pemahaman, empati, dan tindakan nyata dari kita semua.
Dengan mengenali cara penularan yang sebenarnya, meluruskan mitos yang menyesatkan, serta menerapkan langkah-langkah pencegahan yang tepat, kita dapat membantu menekan angka penyebaran HIV dan menciptakan lingkungan yang lebih aman dan inklusif bagi ODHA.
Edukasi adalah fondasi utama dalam perjuangan melawan HIV/AIDS—dan perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang kita ambil hari ini.
ANGELINA
Editor : Imron Arlado