JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Abigail Limuria, Perempuan yang lahir di Jakarta, 10 November 1994, yang merupakan seorang aktivis muda dari Indonesia, yang terkenal luas sebagai penggerak sosial politik, serta seorang penulis dan penggerak literasi bagi generasi muda.
Perempuan kelahiran Jakarta, 10 November 1994 ini menimba ilmu di Biola University, Amerika Serikat, dengan fokus pada Media and Cinema Arts.
Abigail menempuh pendidikan di Biola University, Amerika Serikat, mengambil jurusan Media and Cinema Arts pada 2013 hingga 2017.
Pendidikan tersebut memberinya keterampilan storytelling dan pemahaman tentang media sebagai sarana untuk melakukan perubahan sosial. Perjalanan karier Abigail di bidang sosial-politik telah dimulai sejak tahun 2017.
Ia adalah salah satu orang yang mendirikan beberapa platform penting, seperti What Is Up Indonesia (WIUI), sebuah media independen yang membahas politik Indonesia dalam bahasa Inggris, Bijak Memilih yang berfokus pada pendidikan pemilu, serta Malaka Project yang membantu dalam pemberdayaan masyarakat.
Selain itu, Abigail juga menjadi pelopor proyek Lalita bersama Grace Kadiman, yaitu sebuah program yang bertujuan untuk memberikan penghargaan kepada perempuan Indonesia melalui buku dan berbagai materi pendidikan yang “Lalita: 51 Cerita Perempuan Hebat Indonesia”.
Nama Abigail semakin dikenal secara nasional dan internasional setelah ia tampil sebagai narasumber di media asing seperti Al Jazeera English dan DW News.
Dalam sejumlah pemberitaan, Abigail tampil lantang menyuarakan keresahan masyarakat terutama dalam aksi demonstrasi besar-besaran yang terjadi di Jakarta pada Agustus-September 2025.
Ia turut aktif dalam merumuskan tuntutan publik yang dikenal dengan "17+8" atas isu pemerintahan Indonesia.
Tuntutan tersebut adalah ringkasan dari berbagai aspirasi yang disampaikan oleh organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan serikat buruh.
Abigail Limuria adalah contoh sosok muda yang tidak hanya kritis dan berani menyuarakan aspirasi sosial-politik, tetapi juga menginspirasi banyak generasi muda dengan karya edukasi dan pemberdayaannya.
Perannya sebagai jembatan suara rakyat ke dunia internasional menegaskan posisinya sebagai penggerak perubahan di era modern Indonesia. Wulandari
Editor : Imron Arlado