JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Kehidupan sehari-hari di dunia ini kerap kali melibatkan peran kemasan sebagai pelindung makanan maupun benda lainnya.
Dengan begitu, seluruh orang di dunia ini dapat dipastikan telah akrab dengan berbagai jenis sampah kemasan, terutama sampah plastik.
Sampah-sampah terutama sampah plastik. Setelah mengalami proses pembuangan dan memasuki laut, sampah yang tidak terurai akan mengapung di lautan lepas dan terdorong menuju ke area tenang tepat di tengah laut.
Sampah-sampah tersebut akan bergerak mengikuti arus laut dan berkumpul hingga membentuk suatu pulau sampah yang disebut dengan Pacific Garbage Patch atau Great Pacific Garbage Patch (GPGP).
Pacific Garbage Patch atau GPGP ini merupakan sebuah zona luas berkumpulnya sampah, terutama sampah plastik, yang terletak di samudra pasifik bagian utara, yakni antara California dan Hawaii.
Pulau ini bukan sekedar pulau biasa yang bisa diinjak dan menjadi tempat wisata, melainkan lautan yang penuh dengan partikel plastik serta potongan atau serpihan benda yang kepadatannya lebih tinggi dibanding wilayah sekitar.
Beberapa bagian saat dilihat dari jauh akan tampak seperti laut biasa. Namun, saat diperhatikan lebih dalam, akan terlihat potongan plastik dari berbagai alur. Mulai dari serpihan mikro hingga jaring ikan raksasa.
Secara singkat, asal-usul pulau sampah ini terbentuk dari berbagai jenis sampah, seperti sampah darat maupun sampah laut yang tidak dapat terurai dengan baik lalu terbawa angin hingga ke laut.
Sementara itu, sampah laut sendiri terdiri dari alat tangkap seperti tali, pelampung, jaring, hingga pecahan peti kemas yang hilang atau dibuang.
Baca Juga: Jamin Tak Ada Kenaikan Tunjangan Anggota Dewan
Penelitian besar pada tahun 2018 juga mengungkap bahwa plastik keras (PE/PP) atau perlengkapan perikanan mendominasi massa sampah di GPGP atau pacific garbage patch.
Sampah-sampah bisa menumpuk di area tenang lautan karena laut memiliki arus raksasa layaknya roda berjalan yang disebut dengan Gyre yang mampu mendorong sampah menuju area tengah lautan yang tenang.
Arus yang berada di samudra pasifik sendiri disebut dengan North Pacific Gyre, arus ini memutar searah jarum jam dan dibentuk oleh berbagai arus yang terdiri dari arus California, arus Kuroshio, arus Pasat Utara, dan arus Pasifik Utara.
Arus-arus ini kemudian membentuk seperti suatu pusaran yang menjebak sampah sehingga berkumpul dalam jangka waktu yang panjang dan terbentuklah Great Pacific Garbage Patch atau GPGP.
Secara geografis, letak Great Pacific Garbage Patch terbentang di antara Hawaii dan California kemudian terhubung ke wilayah yang mendekati Jepang.
Namun, para peneliti kerap membaginya menjadi dua konsentrasi besar karena arus dan zona konvergensi subtropis.
Dua konsentrasi besar tersebut adalah Eastern Patch yang terletak di antara Hawaii dan California, sedangkan Western Garbage Patch terletak di dekat Jepang dan Hawaii.
Studi pemetaan dan pengambilan sampel paling komprehensif pada tahun 2018 memperkirakan luas GPGP mencapai sekitar 1,6 juta kilometer, kira kira seperti 3x lebih besar dari Prancis.
Jumlahnya juga diperkirakan mencapai angka kurang lebih 1,8 triliun potongan plastik dengan berat massa sekitar 79.000 ton.
Ukuran dan luas pacific garbage patch yang sangat besar dan berat juga memberi dampak buruk terhadap satwa laut hingga manusia.
Resiko satwa laut terjerat jaring atau sampah lain dan menelan plastik yang ia pikir makanan otomatis menjadi semakin besar.
Hal ini yang kemudian menyebabkan satwa laut mengalami luka dalam, sumbatan pencernaan, menurunnya nutrisi, hingga berujung pada kematian.
Baca Juga: Desa Tempuran, Kecamatan Pungging Bangun TPT Sekitar Makam secara Krocokan
Tak berhenti di situ, kumpulan sampah tersebut juga dapat mengganggu sistem rantai makanan melalui mikroplastik yang kemungkinan besar akan termakan oleh plankton dan hewan kecil, lalu naik ke predator yang lebih besar yang pada akhirnya berpotensi mencapai piring manusia.
Sejumlah penelitian laboratorium telah membuktikan bahwa paparan mikroplastik atau kimia plastik dapat mengganggu pertumbuhan, reproduksi, dan daya tahan penyakit pada organisme laut.
Setelah mengetahui proses terbentuk dan dampak dari adanya pacific garbage patch atau great pacific garbage patch, hal yang dapat kita lakukan adalah mengurangi sampah plastik sekali pakai dan petugas perikanan atau nelayan dapat lebih bertanggung jawab lagi atas alatnya.
FANEZA
Editor : Imron Arlado