Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Aliansi Perempuan Indonesia Kepung DPR, Desak Hentikan Kekerasan Terhadap Demonstran

Imron Arlado • Kamis, 4 September 2025 | 03:24 WIB

Demo Aliansi Perempuan Indonesia di Depan Gedung DPR RI
Demo Aliansi Perempuan Indonesia di Depan Gedung DPR RI

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di depan gedung megah DPR, suara lantang perempuan memecah ruang hening yang selama ini dibiarkan berkarat oleh kompromi politik.

Aliansi Perempuan Indonesia turun ke jalan, mengepung parlemen dengan satu tuntutan yang tak bisa ditawar: hentikan kekerasan terhadap demonstran. 

Bagi mereka, negara yang membiarkan warganya dipukul, dibungkam, dan diperlakukan sebagai musuh, bukanlah pelindung, melainkan pengkhianat rakyat.

Aksi ini hadir bukan sekadar sebagai unjuk rasa, melainkan lonceng peringatan keras—bahwa kesabaran publik, khususnya perempuan yang kerap menjadi garda terdepan perlawanan, telah mencapai titik didih dan tak lagi bisa diabaikan.

Di balik spanduk yang berkibar dan orasi yang menggema, terkandung amarah kolektif yang dipupuk dari luka bertahun-tahun.

Mereka menegaskan bahwa kekerasan terhadap demonstran bukanlah peristiwa terpisah, melainkan gejala kronis dari kekuasaan yang terus menguji batas kesabaran rakyat.

 

Baca Juga: Deretan Nominasi Penghargaan Korea Drama Awards 2025, Ada Park Bo Gum dan IU

 

Dengan keberanian yang dirajut dalam solidaritas, para perempuan itu memilih berdiri di garis depan, menolak tunduk pada intimidasi. Sebab bagi mereka, demokrasi bukan sekadar kata-kata manis di podium parlemen, melainkan denyut kehidupan yang harus dipertahankan di jalanan tempat rakyat bersuara.

Kehadiran mereka di depan DPR bukan hanya menunjukkan keberanian, tetapi juga menjadi cermin yang memaksa wakil rakyat menatap wajah asli demokrasi. Pertanyaannya sederhana namun tajam: apakah parlemen siap membuka telinga bagi jeritan rakyat, atau justru kembali bersembunyi di balik tembok kekuasaan yang kian rapuh? 

Aliansi Perempuan Indonesia menegaskan, jika negara bersikeras mempertahankan kekerasan sebagai bahasa politiknya, maka rakyatlah yang akan menjawab dengan menuliskan ulang sejarah—bukan dengan tinta kompromi, melainkan dengan tinta perlawanan.

 

Baca Juga: Hajar Inter Miami 3-0 di Babak Final, Seattle Sounders Sukses Angkat Trofi Piala Liga 2025!

 

Gelombang suara itu tak berhenti di pagar DPR; ia menembus layar gawai, ruang diskusi, hingga obrolan sehari-hari, menjelma percakapan yang mengguncang kesadaran publik. Para perempuan itu ingin dunia menyaksikan bahwa mereka bukan sekadar korban, melainkan pelopor yang menyalakan obor perlawanan terhadap represi. 

Dari jalanan yang mereka pijak dengan keberanian, lahirlah pesan yang tak bisa disangkal: demokrasi sejati hanya akan hidup ketika rakyat diperlakukan sebagai pemilik sah negeri ini, bukan musuh yang harus ditundukkan.

Dan malam ini, kobaran perlawanan itu tumbuh semakin besar. Aksi Aliansi Perempuan Indonesia menjelma bukan hanya unjuk rasa, melainkan refleksi kegelisahan sebuah bangsa yang lelah dipaksa menerima kekerasan sebagai hukum yang sah. 

Dari jejak langkah yang sederhana namun penuh keberanian, lahir sebuah gelombang besar yang menantang arogansi kekuasaan: sebuah pekik lantang bahwa keadilan tak lagi bisa ditangguhkan, dan demokrasi tak boleh terus dijadikan permainan di tangan segelintir elit. BINTANG PURNAMA.

Editor : Imron Arlado
#dpr #aliansi perempuan indonesia #demo #indonesia #Perlawanan