Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Memahami Diaspora Indonesia: Identitas, Peran, dan Kesalahpahaman Publik

Imron Arlado • Minggu, 31 Agustus 2025 | 21:22 WIB

Ilustrasi Diaspora.
Ilustrasi Diaspora.

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Selama ini, pemahaman publik sering keliru, diaspora kerap dianggap sebatas lembaga resmi, organisasi komunitas, atau bahkan perkumpulan elit yang jauh dari kehidupan rakyat. Padahal, kenyataannya jauh melampaui itu. 

Diaspora adalah jutaan jiwa Indonesia yang mengakar dan bertebaran di berbagai penjuru dunia, mulai dari buruh migran yang bekerja dalam senyap, seniman yang mengharumkan nama bangsa, hingga ilmuwan dan profesional yang duduk di garda depan kemajuan global. 

Mengabaikan eksistensi mereka sama saja dengan menutup mata terhadap salah satu kekuatan terbesar bangsa di luar negeri—sebuah modal sosial dan strategis yang belum sepenuhnya dipahami apalagi dimanfaatkan dengan serius.

Diaspora Indonesia bukan sekadar kumpulan “warga perantau”, melainkan kekuatan strategis yang menjembatani kepentingan bangsa dengan dunia.

Mereka membuka ruang diplomasi, menggerakkan roda ekonomi, dan memperkaya interaksi budaya lintas negara.

Jejak mereka terbentang luas, dari ruang kelas universitas ternama, laboratorium penelitian mutakhir, hingga panggung bisnis global yang menentukan arah ekonomi dunia.

 

Baca Juga: Ribuan Honorer Pemkot Tunggu Kepastian

 

Namun, yang ironis, negara sering kali baru menoleh ketika nama mereka mencuat karena prestasi spektakuler atau muncul dalam pusaran tragedi yang mengundang simpati.

Pertanyaan yang tak bisa dihindari: sampai kapan peran diaspora akan terus diperlakukan sebagai pelengkap, alih-alih dijadikan pilar penting dalam strategi kebangsaan yang berkelanjutan?

Lebih dari sekadar citra kaum intelektual di panggung global, diaspora sejatinya juga berwajah peluh para pekerja migran yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Bukan hanya akademisi, diplomat, atau profesional berkarir cemerlang, tetapi juga jutaan buruh pabrik, pekerja ladang, hingga asisten rumah tangga yang setiap hari berjuang demi keluarga dan negeri. 

Ironisnya, mereka yang digadang sebagai “pahlawan devisa” justru sering direduksi menjadi angka-angka kering dalam laporan ekonomi negara, seolah nilai mereka hanya sebatas jumlah kiriman uang.

 

Baca Juga: Maling Motor Dilaporkan Cabuli Wanita

 

Mengabaikan suara dan nasib mereka sama artinya menutup mata pada kebenaran: diaspora Indonesia bukanlah simbol prestise segelintir elit, melainkan denyut nyata kehidupan bangsa yang berdesir dari luar batas tanah air.

Kini, sudah waktunya negara berhenti memperlakukan diaspora sekadar jargon politik atau hiasan manis yang dipamerkan sesekali di panggung internasional.

Diaspora bukanlah properti pencitraan, melainkan jaringan kekuatan global yang seharusnya diposisikan sebagai mitra strategis bangsa. 

Tanpa arah kebijakan yang tegas dan terukur, potensi besar itu hanya akan tercecer, direbut negara lain, sementara Indonesia sibuk membangun ilusi bahwa diaspora hanyalah kisah perantau di luar pagar negeri.

 

Baca Juga: Arca Tanah dari Masa Majapahit: Bentuk Binatang dan Wajah Orang Asing

 

Pertanyaan yang mendesak untuk dijawab adalah: beranikah kita menggeser paradigma, menjadikan diaspora bagian dari arsitektur kebangsaan yang nyata, ataukah kita akan terus membiarkan mereka menjadi pahlawan tanpa panggung, bahkan tanpa tempat pulang?

Diaspora Indonesia ibarat cermin besar yang menampilkan dua sisi wajah bangsa. Di satu sisi, mereka membuktikan bahwa anak negeri mampu bertahan, beradaptasi, dan bahkan bersinar di panggung global. 

Namun, di sisi lain, cermin itu juga memantulkan kelemahan kita: negara yang masih sering abai merangkul warganya sendiri di tanah rantau.

Jika pandangan setengah hati terhadap diaspora terus dipelihara, maka yang terancam hilang bukan sekadar peluang ekonomi dan diplomasi, melainkan juga ikatan emosional yang menjaga anak bangsa tetap dekat dengan tanah airnya. 

Karena itu, sudah waktunya berhenti terjebak dalam salah kaprah dan sikap setengah-setengah.

Memahami diaspora tidak lagi soal istilah atau definisi, melainkan soal keberanian bangsa untuk mengakui, menghargai, dan mengoptimalkan kekuatan sejatinya. BINTANG PURNAMA/Linda

Editor : Imron Arlado
#Dipandang Sebelah Mata #diaspora #pahlawan devisa #indonesia #global