Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Apakah Berbahaya Gen Z Ketergantungan Curhat ke ChatGPT? Lalu Bagaimana Cara Menghindarinya?

Imron Arlado • Minggu, 31 Agustus 2025 | 23:31 WIB
Ilustrasi Gen Z Ketergantungan Curhat ke ChatGPT (Sumber Foto: Pexels)
Ilustrasi Gen Z Ketergantungan Curhat ke ChatGPT (Sumber Foto: Pexels)

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Fenomena Gen Z curhat ke AI tepatnya ChatGPT kini makin sering dibicarakan. Gen Z lahir diantara 1997 hingga 2012, mereka tumbuh dalam era internet, media sosial, dan teknologi yang terus berkembang pesat.

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau yang sering disebut dengan AI ini tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan mencari informasi, tetapi juga memengaruhi cara generasi muda menyalurkan perasaan mereka.

Dulu, orang bercerita kepada teman, keluarga, atau bahkan psikolog. Kini, sebagian Gen Z lebih nyaman menuangkan isi hati kepada ChatGPT.

Fenomena ini mencerminkan perubahan cara berkomunikasi dan kebutuhan emosional generasi yang tumbuh di tengah teknologi digital.

Salah satu alasan utama Gen Z memilih ChatGPT adalah karena tersedia kapan saja, 24 jam penuh.

Berbeda dengan manusia yang memiliki kesibukan sehingga tidak selalu bisa mendengarkan, ChatGPT bisa diakses kapan pun dibutuhkan. Hal ini membuat banyak anak muda merasa punya teman virtual yang selalu siap mendengarkan.

Selain itu, AI ini tidak pernah menghakimi. Banyak remaja dan dewasa muda yang takut dinilai buruk saat curhat, namun ChatGPT menawarkan rasa aman.

Mereka bisa bercerita apa saja, baik masalah pribadi, hubungan, hingga tuntutan belajar, tanpa merasa malu.

Hal ini seperti yang dikatakan oleh Psikolog klinis dari PSRI Hospital New Delhi, Arpita Kohli, “Generasi Z dan Alfa tumbuh di dunia hyper-digital di mana teknologi hadir sejak mereka lahir. Mereka secara alami tertarik pada chatbot AI karena tersedia 24 jam, responsif, dan tidak menghakimi,” ujarnya pada Selasa (12/8/2025).

Meski memberi kenyamanan, para ahli mengingatkan bahwa fenomena ini tidak sepenuhnya aman dan dapat menimbulkan bahaya pada penggunanya.

Pertama, adanya risiko ketergantungan.

Terlalu sering mengandalkan ChatGPT dapat membuat Gen Z semakin menjauh dari interaksi langsung dengan manusia di dunia nyata. Hal ini berisiko menurunkan kemampuan sosial dan membuat mereka lebih suka menyendiri.

Kedua, informasi yang diberikan AI belum tentu benar.

Meski terdengar meyakinkan, saran dari ChatGPT bisa keliru atau tidak sesuai konteks, bahkan kadang malah menyesatkan jika topiknya sensitif misalnya tentang kesehatan mental, kekerasan, atau pikiran untuk mengakhiri hidup.

Ketiga, ChatGPT tidak memiliki rasa empati.

Meski jawabannya netral, tetap berbeda dengan dukungan emosional yang diberikan manusia yang memiliki perasaan dan pengalaman hidup. Selain itu, isu privasi juga jadi perhatian, cerita pribadi yang ditulis ke AI bisa terekam di sistem.

Berikut beberapa tips menurut Kohli untuk menghindari ketergantungan pada AI:

  1. Sadari Kondisi Emosional

AI tidak bisa memahami emosi manusia ataupun merasakan empati. Oleh karena itu, untuk mengelola emosi, tetap utamakan interaksi dengan manusia.

  1. Kurangi Curhat ke ChatGPT

Jangan terlalu sering curhat dengan ChatGPT. Cobalah bicara dengan keluarga ataupun sahabat yang bisa dipercaya.

  1. Membangun Pertemanan di Dunia Nyata

Hal ini dapat dimulai dengan mengikuti kegiatan komunitas, klub olahraga, atau menjadi relawan untuk membangun hubungan sosial yang nyata.

  1. Lakukan Digital Detox secara Rutin

Sisihkan waktu khusus untuk istirahat dari perangkat digital agar tidak terlalu bergantung secara emosional pada AI.

Rizma/Linda

Editor : Imron Arlado
#Gen Z #Gen Z Curhat di Chat GPT #kesehatan mental #ChatGPT #AI