RADAR MOJOKERTO - Apakah Anda sosok yang memiliki hobi melamun? jika iya, artikel berikut akan membahas seputar lamunan yang ternyata memiliki satu kondisi psikologis tertentu.
Melamun itu hal lumrah. Namun beberapa orang memiliki durasi lamunan yang cukup panjang dengan menampilkan banyak skenario palsu dalam pikiran.
Kebiasaan tersebut tentunya terasa begitu menyenangkan sekaligus menyebalkan, karena bisa mengganggu produktivitas harian.
Maladaptive daydreaming adalah kata yang memaknai kondisi di atas, kondisi yang sebenarnya normal namun bisa memberikan dampak buruk berkepanjangan.
Maladaptive daydreaming diartikan sebagai suatu fenomena saat seseorang menghabiskan waktunya secara berlebih dan intens untuk melamun.
Pada saat mengalaminya, seseorang memiliki lamunan yang bersifat kompleks, detail, dan sulit untuk dihentikan sehingga sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: Arti People Nearby dan Cara Aman Menggunakan Fitur People Nearby di Aplikasi Media Sosial
Sejarah Maladaptive Daydreaming
Istilah maladaptive daydreaming mulai muncul pada 2002 dan dicetuskan psikolog klinis, Eli Somer.
Pada masa itu, Eli Somer mendeskripsikan maladaptive daydreaming sebagai aktivitas fantasi intens yang menggantikan interaksi manusia dan mengganggu rutinitas sehari-hari.
Somer tertarik melakukan penelitian tersebut karena sempat menangani beberapa pasien dengan pelecehan seksual cenderung berlari ke dunia imajiner atau berfantasi agar dapat menikmati sesuatu yang hilang dalam realita kehidupan mereka.
Dalam kondisi tersebut, pelaku melamun, membuat cerita dan berfantasi dengan kisah yang dibuat dalam pikiran, melakukan itu dalam kurun waktu cukup lama dan berkepanjangan.
Sejak kemunculan istilah maladaptive daydreaming pada 2002 oleh Eli Somer, lamunan maladaptif terus dikaji dan berkembang seiring berjalannya waktu.
Maladaptive Daydreaming vs Lamunan Biasa
Maladaptive Daydreaming atau lamunan maladaptif berbeda dengan lamunan biasa. Perbedaan keduanya terletak pada isi lamunan, intensitas, dan dampak yang dihasilkan.
Pada lamunan biasa, seseorang cenderung hanya berimajinasi hal menyenangkan secara singkat, sedangkan maladaptive akan melibatkan berbagai hal kecil dalam lamunannya seperti karakter, termasuk ekspresi wajah.
Secara intensitas dan dampak, maladaptive daydreaming memiliki durasi cukup panjang dan bisa menyebabkan ketergantungan sehingga berdampak pada rutinitas harian.
Alasan Dibalik Maladaptive Daydreaming
Menurut salah satu artikel Newport Institute tentang maladaptive daydreaming, lamunan maladaptif adalah salah satu bentuk pelarian dari kenyataan yang kurang menyenangkan.
Seperti pada penelitian Eli Somer, seorang yang mengalami maladaptive daydreaming bisa diakibatkan oleh adanya trauma dimasa lalu seperti pelecehan seksual misalnya.
Saat melamun, membuat skenario di dalam kepala, dan membayangkan bahwa kekuatan dan kekuasaan ada dalam diri mereka, seorang pelamun maladaptif akan merasa lebih aman, tenang, dan nyaman.
Selain itu, beberapa gangguan kesehatan mental seperti ADHD, OCD, gangguan kecemasan, dan lainnya juga rentan mengalami kondisi maladaptive daydreaming.
Ciri Maladaptive Daydreaming
1. Melamun intens dan beralur
Pada kasus lamunan maladaptif, seseorang memiliki durasi lamunan panjang dan intens.
Saat melamun, skenario dalam lamunan memiliki struktur terperinci seperti adanya tokoh dengan beragam karakter hingga lokasi.
2. Sulit fokus
Lamunan yang kompleks dan intens membuat seorang pengidap maladaptive daydreaming merasa kesulitan untuk fokus dalam kehidupan nyata.
3. Lamunan terlalu lama
Maladaptive daydreaming memiliki periode waktu lebih panjang dari lamunan biasa, sekitar 1-3 jam lamanya.
Baca Juga: Percaya pada Zodiak Termasuk Bagian dari Efek Barnum! Kenali Apa itu Barnum Effect dan Dampaknya
4. Sulit tidur
Dapat dipicu oleh kejadian dunia nyata, lamunan maladaptif ternyata bisa juga membuat seseorang mengalami kesulitan tidur.
Hasrat melamun cukup tinggi dan skenario menarik dalam pikiran membuat seorang maladaptive dreamer merasa perlu untuk memulai atau melanjutkan lamunannya dan mengabaikan jam tidur.
5. Melibatkan ekspresi wajah
Lamunan maladaptif sebagai bentuk lamunan kompleks dengan beragam cerita rumit dan karakter yang detail secara sadar atau tidak akan memuat ekspresi wajah, gerakan, bahkan suara-suara sesuai dengan isi lamunannya.
Dampak Maladaptive Daydreaming
Maladaptive daydreaming tentunya berdampak negatif pada kehidupan, baik untuk individu maupun saat bersosial.
Seorang pengidap maladaptive daydreaming akan merasa sulit fokus, sulit tidur, dan bingung saat berinteraksi sosial sebab terlalu banyak menghabiskan waktu untuk melamun dan membuat cerita sendiri dalam kepala.
Selain itu, kondisi maladaptive dreaming akan berdampak negatif terhadap mood, seperti timbulnya perasaan bersalah dan malu karena telah menghabiskan sebagian besar waktu untuk melamun sehingga menghambat pekerjaan dan rutinitas harian.
Baca Juga: Quiet Luxury, Gaya Mewah Tanpa Pamer, Inilah Tren Fashion yang Dicintai Gen Z
Cara Mengatasi Maladaptive Daydreaming
Untuk mengurangi munculnya kondisi maladaptive daydreaming, buat jadwal harian atau to do list agar aktivitas harian bisa lebih tertata. Tak hanya itu, pastikan tidur secara teratur dan mengurangi asupan kafein dalam tubuh.
Interaksi sosial dan memiliki teman bercerita yang suportif juga dapat membantu dalam mengatasi kondisi maladaptive daydreaming. Namun tak ada salahnya juga untuk berkonsultasi kepada dokter atau psikolog untuk mengatasi kondisi maladaptive daydreaming secara tepat.
Editor : Imron Arlado