Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Merah Putih: One For All, Film Animasi Nasionalisme yang Panen Kontroversi

Imron Arlado • Minggu, 17 Agustus 2025 | 22:12 WIB

Poster official film animasi Merah Putih: One For All
Poster official film animasi Merah Putih: One For All

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Film animasi Merah Putih: One For All yang disutradarai oleh Endiarto bersama Bintang Takari dan produser Toto Soegriwo dari Perfiki Kreasindo akhirnya resmi tayang serentak pada Kamis, 14 Agustus 2025. 

Mengusung tema petualangan bernuansa nasionalisme, film ini dirilis bertepatan dengan peringatan HUT ke-80 RI.

Kisahnya berfokus pada sekelompok anak yang terpilih menjadi “Tim Merah Putih” untuk menjaga bendera pusaka yang selalu dikibarkan saat upacara kemerdekaan 17 Agustus. Namun tiga hari sebelum upacara kemerdekaan digelar, bendera tersebut menghilang.

“Tim Merah Putih” tersebut pun memulai petualangan untuk mencari bendera yang hilang, mulai dari menyusuri sungai hingga menghadapi konflik batin untuk menemukan bendera merah putih tersebut.

Baca Juga: Film Merah Putih One For All Peroleh Kritikan Pedas karena Habiskan Anggaran Miliaran Rupiah Namun Kualitas Pas-pasan

Meskipun mengusung pesan kebangsaan, animasi Merah Putih: One For All justru menuai kontroversi sejak trailer-nya dirilis. 

Banyak dari penonton yang mengaku tidak mempunyai ekspektasi lebih pada film animasi tersebut. Apalagi setelah menonton trailer dan berbagai kontroversi tentang film yang diproduksi oleh Perfiki ini.

Banyak warganet menilai kualitas animasinya kaku dan jadul, bahkan menuduh penggunaan aset stok murah. 

Transisi adegan disebut mirip slide PowerPoint, audio terlalu keras, dan pengisi suara tidak natural. Beberapa penonton juga menyoroti pemakaian judul yang menggunakan bahasa Inggris untuk film bertema nasionalisme.

Kontroversi bertambah ketika jaringan bioskop Cinepolis membatalkan penayangan. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan respons publik yang menilai film belum siap tayang. 

Baca Juga: BGN Kucurkan Anggaran Rp 8,6 Miliar Untuk Bangun Tiga Unit Dapur SPPG di Kota Mojokerto

Sementara itu, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon memberikan apresiasi terhadap niat pembuatnya, menegaskan bahwa karya terbaik harus tetap ditampilkan. 

Banyaknya kontroversi terhadap film itulah yang membuat masyarakat Indonesia mengaku malas untuk menontonnya.

Akhirnya, tidak semua bioskop menayangkan film Merah Putih: One For All, di Surabaya hanya ditayangkan di XXI Ciputra World dengan total 5 layar.

Saat penayangan Merah Putih: One For All kamis siang, terlihat tidak terlalu ramai dan hanya diisi oleh 26 penonton saja.

Sementara per hari ini, Jumat (15/8/2025), penayangan film animasi tersebut sudah turun menjadi empat layar di Surabaya. 

Sedangkan berdasarkan penelusuran di aplikasi TIX ID, terhitung hanya ada tiga bioskop di jakarta yang menayangkan film berdurasi 70 menit itu.

 

Baca Juga: Desa Sukoanyar, Kecamatan Ngoro Luncurkan Bank Sampah K'Nyar Elok, Motor Penggerak Perubahan Lingkungan

 

Meski dihujani komentar pedas, Merah Putih: One For All tetap menjadi salah satu proyek animasi nasional yang berani mengangkat tema kebangsaan. 

Harapannya, kritik yang muncul dapat menjadi bahan evaluasi bagi pembuat film agar produksi animasi Indonesia di masa depan hadir dengan kualitas teknis dan cerita yang lebih kuat.

Tri Yulia Setyoningrum/Linda Tresnawati

Editor : Imron Arlado
#Merah Putih One for All #kontroversi film #perfiki #nasionalisme #film animasi