JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Sejarah Indonesia seringkali ditulis dengan narasi yang maskulin. Dipenuhi dengan nama para raja, panglima, dan tokoh laki-laki lainnya.
Peran dan kontribusi para perempuan yang tak kalah krusial seperti transparan dan ditutup tutupi seperti tak begitu penting untuk dipandang serta dikenang.
Perempuan kerap kali ditampilkan dan dipandang hanya sebatas pelengkap dalam naskah sejarah yang tampak jantan.
Hal ini juga masih seringkali terjadi dalam kehidupan saat ini. Padahal, dalam peristiwa penting di Nusantara, mereka juga memiliki peran penting. Contohnya seperti sebagai pemimpin kerajaan, pengatur strategi, penasihat, pemuka agama, hingga pelopor pendidikan.
Posisi dan kontribusi perempuan dalam berbagai era di Nusantara mulai dari aspek mitologi, politik kerajaan, dan perjuangan kemerdekaan meninggalkan warisan sosial yang hingga kini masih bisa dirasakan.
Kontribusi dan peran penting perempuan juga sering dibahas dalam dunia mitologi seperti cerita legenda yang berasal dari kepercayaan suatu budaya, masyarakat, atau kelompok tertentu.
Dalam konteks Nusantara, perempuan dalam mitologi seringkali diangkat sebagai simbol kesucian, kesuburan, dan kekuasaan ilahi.
Walaupun bersifat simbolik dan mitologis, kedudukan mereka menunjukkan bahwa perempuan juga dipercaya memiliki kekuatan spiritual dan moral yang besar oleh masyarakat pada masa itu.
Beberapa tokoh perempuan dalam dunia mitologi adalah Ken Dedes dan Dewi Sri. Mereka adalah dua wanita yang sangat populer akan perannya yang penting sebagai pusat legitimasi kekuasaan.
Baca Juga: Pemkab Ekspor Ribuan Pasang Sepatu ke Korsel
Ken Dedes adalah tokoh utama dalam kitab pararaton. Ia dipercaya memiliki simbol turun-temurun yang disebut “Wahyu Keraton”. Dikatakan bahwa siapapun yang menjadi suaminya akan diangkat menjadi raja.
Sementara Dewi Sri, ia adalah seorang perempuan yang dihormati mulai dari Jawa, Bali, hingga Sumatera sebagai dewi padi dan dewi kesuburan.
Peran mereka membuktikan bahwa perempuan tidak hanya berguna sebagai objek pendamping laki-laki, tapi juga sebagai sumber kehidupan dan kemakmuran.
Tak hanya dalam dunia mitologi dan legenda, perempuan juga memiliki peran yang sangat penting dalam struktur kekuasaan kerajaan.
Di kerajaan, tak sedikit perempuan yang menjadi seorang ratu, penasihat, dan menjadi tokoh yang berpengaruh dalam tatanan sosial ekonomi, politik, dan budaya.
Contohnya seperti Tribhuwana Tunggadewi, Gayatri Rajapatni, dan Dyah Suhita yang sukses pemimpin utama kerajaan terbesar di Nusantara.
Ada juga tokoh perempuan yang berkontribusi aktif dan berperan penting dalam perlawanan serta perjuangan kemerdekaan.
Mereka bergerak menjadi anggota perang, menyuarakan pentingnya pendidikan bagi perempuan, mendirikan lembaga pendidikan pertama, bahkan menjadi seorang panglima perang.
Beberapa diantaranya adalah Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Kartini, Dewi Sartika, dan Maria Walanda Maramis.
Mereka adalah tokoh yang berhasil menjunjung tinggi derajat perempuan, mereka membuktikan pada dunia bahwa peran wanita tidak sebatas berkutat di dapur dan melayani laki-laki.
Mereka menunjukkan bahwa perempuan juga dapat memimpin dan memenangkan suatu peperangan, mendirikan sekaligus memimpin organisasi permpuan, serta menjadi pelopor pendidikan yang lebih adil.
Baca Juga: Oknum PNS Pemkot yang Cabuli Siswi Dipecat
Para perempuan juga biasanya menjadi simbol penting yang hingga kini masih terus digunakan. Seperti simbol ibu pertiwi yang menggambarkan Indonesia sebagai sosok ibu yang menjadi pelindung dan memberi kehidupan.
Namun, maraknya budaya patriarki membuat akses kegiatan para perempun menjadi terbatas dan terasa sesak karena terlalu ditekan oleh standar sikap yang tidak masuk akal.
Sistem patriarki sukses membatasi akses perempuan terhadap kekuasaan, kesempatan, perilaku, hingga pendidikan.
Banyak perempuan berjasa yang mengorbankan citra dirinya sendiri, mereka harus menyamar dibalik topeng maskulin dan meninggalkan citra femininnya agar bisa bergerak lebih leluasa dalam berkorban dan mempengaruhi sejarah.
FANEZA
Editor : Imron Arlado