RADAR MOJOKERTO - Pernahkah Anda mendengar tentang hukum asumsi atau law of assumption? Konsep psikologi satu ini belakangan cukup populer.
Law of assumption amat mengandalkan pikiran dan asumsi individu dalam mewujudkannya menjadi realitas sesungguhnya.
Definisi dan Sejarah Law of Assumption
Law of assumption atau hukum asumsi adalah sebuah konsep psikologi yang mulai dikaji sebelum abad 20 dengan kaitan eratnya pada praktik ritual dan meditasi.
Law of assumption merupakan salah satu metode manifestasi yang dilakukan dengan menganggap, mempercayai, meyakini, berasumsi, dan merasakan bahwa keinginan yang dituju telah tercapai.
Law of assumption mendefinisikan bahwa apapun yang dianggap nyata, itulah yang akan menjadi kenyataan.
Sejarah konsep tersebut berakar pada filsafat kuno, ritual dan meditasi diketahui bertujuan memberikan pengaruh bagi kehidupan masa depan.
Law of assumption mulai berkembang, akhir abad 19 dan awal 20 dengan deskripsi bahwa pikiran akan mempengaruhi pengalaman. Fokus dari hasil penerapan hukum ini berada pada kekuatan mental dan pemikiran positif.
Salah satu tokoh terkenal yang turut mempopulerkan hukum law of assumption adalah Neville Goddard, seorang penulis asal Amerika.
Baca Juga: Cinta Bukan Hal Utama, Berikut 5 Zodiak Paling Ambisius Mengejar Karir dan Uang
Goddard menekankan ajaran tentang kekuatan berimajinasi. Menurutnya, imajinasi akan membentuk realitas dan perasaan memegang peranan penting untuk mewujudkan setiap keinginan.
Imajinasi akan membantu menemukan kehidupan yang diinginkan. Keyakinan dan kegigihan adalah kunci dibalik kesuksesan, bahkan saat hasil belum benar-benar terlihat.
Teori-teori tersebut adalah bagian dari hukum law of assumption, bagaimana kekuatan imajinasi dan asumsi dalam diri bisa membentuknya menjadi sebuah kenyataan, namun harus yakin terhadap apa yang diasumsikan.
Praktek Law of Assumption
Pada dasarnya, law of assumption bisa dikatakan semacam hukum kepura-puraan dengan tujuan lebih positif.
Berpura-pura dalam hukum asumsi adalah menganggap bahwa cita-cita, keinginan, tujuan, atau goals dalam hidup telah menjadi kenyataan, padahal sebenarnya belum.
Asumsi atau anggapan tersebut harus terkoneksi dengan perasaan yakin untuk bisa mewujudkannya menjadi kenyataan sebenarnya.
Perasaan alam bawah sadar harus diubah selaras dengan keyakinan pikiran, disitulah hukum asumsi bekerja.
Ketidakberhasilan biasanya disebabkan oleh keragu-raguan, maka dari itu butuh keyakinan mutlak dalam diri bahwa mimpi itu telah terwujud (meski belum), selanjutnya keyakinan pikiran dan perasaan ini yang akan membawa pada kenyataan.
Cara mempraktekkannya cukup mudah sebenarnya, cukup butuh keyakinan pikiran dan perasaan untuk mewujudkannya.
Misalnya, jika kamu memiliki keinginan untuk membeli berlian. Hal yang perlu dilakukan adalah bayangkan Anda sedang melihat-lihat etalase berlian melalui media online, memilih-milih, datang ke toko berlian dan membelinya. Selanjutnya, bayangkan Anda mengambil berlian dari kotaknya, mengenakannya, dan melihat dari pantulan cermin betapa indahnya berlian baru milik Anda.
Baca Juga: Biar Nggak Kudet! Ini Dia Slang Gen Z yang Wajib Kamu Tahu
Memang terdengar lucu dan tidak masuk akal, namun proses dari law of assumption adalah demikian.
Metode itu bisa dibayangkan berulang sampai terbiasa, dan pikiran, perasaan, serta fisik terkoneksi dan membentuk vibrasi yang sama untuk terwujudnya mimpi tersebut.
Perlu diketahui bahwa law of assumption atau hukum asumsi bisa dilakukan untuk mewujudkan berbagai aspek seperti perihal percintaan, keuangan, jabatan, benda, atau apapun tujuan dan keinginan Anda.
Dalam menjalankan law of assumption, Anda bisa menuliskan keinginan, memvisualisasikan, berasumsi tanpa keraguan dan penuh keyakinan, dan melakukannya secara rutin, serta ikhlas dan tetap berdoa.
Editor : Imron Arlado