JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Dalam banyak keluarga dan budaya, anak perempuan tumbuh dengan sederet tuntutan seperti, membantu pekerjaan rumah, bersikap manis, tidak membantah, dan bersikap patuh sesuai norma masyarakat.
Sementara itu, pembicaraan tentang hak untuk belajar, berpendapatan, bermimpi, dan membela diri, seringkali tertinggal jauh di belakang. Kondisi ini juga bukan hanya tidak adil bagi kaum perempuan tapi juga berbahaya.
Karena ketika seorang anak hanya dibesarkan hanya dengan beban tugas tanpa pemahaman tentang haknya.
Ia berisiko tumbuh menjadi perempuan yang tidak menyadari nilai dirinya, mudah di salah gunakan, dan sulit memperjuangkan masa depannya sendiri.
Hak Dan Tugas Harus Berjalan Seimbang
Setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan yang punya tanggung jawab dalam kehidupan sosial dan keluarga.
Tapi yang lebih sering terjadi, tanggung jawab anak perempuan jauh lebih ditekan sejak masih kecil, seolah menjadi tugas alami mereka.
Mereka diminta membantu mengurus rumah lebih awal, merawat adik, dan menjaga nama baik keluarga. Sementara anak laki-laki sering mendapatkan lebih banyak ruang untuk bermain, belajar, dan lebih diberi fasilitas.
Mengenal Hak Membantu Mencegah Kekerasan
Banyak perempuan dewasa yang baru menyadari bahwa mereka pernah merasa atau sedang mengalami kekerasan, baik dalam bentuk fisik, verbal, maupun emosional.
Sebagai anak perempuan mereka juga berhak berkata tidak ketika merasa tidak nyaman, mereka berhak untuk marah saat diperlakukan tidak adil.
Dan mereka juga berhak untuk melaporkan pelecehan bahkan jika pelakunya orang yang mereka kenal.
Membangun Rasa Percaya Diri Dan Harga Diri
Anak perempuan yang memahami hak-haknya akan tumbuh dengan rasa percaya diri yang sangat kuat. Mereka juga tahu bahwa pendapat mereka sangat berarti, bahwa mereka berharga terlepas dari penilaian orang lain.
Rasa percaya diri sangat penting tidak hanya untuk masa depan karier mereka, tetapi juga untuk relasi sosial dan emosional.
Anak perempuan yang tahu nilai dirinya tidak akan mudah diperdaya atau bahkan direndahkan.
Mendorong Anak Perempuan Menjadi Pemimpin
Dunia butuh lebih banyak anak perempuan yang berani untuk mengambil keputusan, memimpin perubahan, dan bersuara atas nama keadilan.
Tapi hal ini tidak akan mungkin terjadi jika sejak kecil mereka selalu dibentuk untuk diam dan mengikuti perintah.
Dalam banyak budaya, anak perempuan ditanamkan peran sebagai penopang bukan sebagai pemimpin.
Dengan mengajarkan hak-haknya, kita membalik narasi ini, bahwa perempuan bukan pendukung, tapi juga mengambil keputusan.
Keadilan Dimulai Dari Rumah
Sering kali orang tua tidak menyadari bahwa memperlakukan anak laki-laki dan perempuan secara tidak seimbang.
Memberi ruang bagi anak perempuan untuk menyuarakan keinginan, memberi kesempatan belajar yang sama.
Melibatkan mereka dalam diskusi keluarga, bahkan membiarkan mereka untuk membuat pilihan mereka sendiri, semua itu adalah bentuk pengakuan dan hak mereka.
Mengajarkan anak perempuan tentang hak mereka bukan berarti mengajarkan mereka untuk menjadi pembangkang. Justru sebaliknya, itu adalah bagian dari pendidikan karakter, tapi juga membentuk perempuan yang berani, jujur, bertanggung jawab.
Tapi juga tahu kapan harus bersuara, kapan harus bertanya, dan kapan harus menolak. Anak perempuan bukan hanya anak baik yang tahu tugasnya, tapi juga seorang manusia utuh yang berhak untuk menentukan arah hidupnya.
Baca Juga: Tersisa Pendaftaran Kategori Kelompok Lomba Tari Kreasi Tradisi se-Mojokerto Raya
“Seorang perempuan akan menjadi luar biasa ketika dia berhasil mengajari dirinya sendiri bahwa semua sumber kekuatan, kebahagiaan, dan motivasi itu ada didalam dirinya sendiri”
AILEEN ZNR
Editor : Imron Arlado