RADAR MOJOKERTO - Pernahkah Anda mengalami kondisi kesulitan keluar dari hubungan toxic? Atau melihat teman Anda selalu kembali lagi dengan pasangannya meski sang kekasih adalah sosok yang red flag?
Pola semacam ketagihan untuk disakiti tersebut dalam istilah psikologinya disebut dengan trauma bonding.
Permasalahan tersebut bisa terjadi pada siapapun dan dalam istilah psikologinya disebut dengan trauma bonding.
Artikel berikut akan menjawab terkait pengertian, ciri, penyebab, hingga cara mengatasi trauma bonding yang bisa dikatakan toxic dalam sebuah hubungan.
Definisi Trauma Bonding
Dilansir dari laman artikel Buletin KPIN, Trauma bonding atau ikatan trauma adalah siklus kekerasan dan ini semacam pola ketika seseorang atau korban memiliki kekuatan dan kemelekatan ikatan emosional terhadap pelaku kekerasan.
Dalam hal ini, seseorang seakan merasa ketagihan dengan kekerasan yang diberikan oleh pelaku. Sebenarnya, ini adalah pola yang tanpa disadari dilakukan berulang.
Ikatan trauma kerap dialami dalam hubungan asmara karena adanya rasa ketergantungan emosional terhadap pasangan.
Ikatan semacam ini bisa terjadi karena korban sulit mendeteksi perlakuan menyakitkan yang dilakukan oleh pelaku sehingga dalam fase ini korban merasa takut untuk ditinggalkan.
Baca Juga: Mimpi di dalam Mimpi, Kenali Apa Itu False Awakening dan Faktornya! Apakah Berbahaya?
Siklus Trauma Bonding
Dikutip dari laman Sandstone Care, siklus ikatan trauma akan dimulai dari love bombing, kemudian masuk kedalam tahap ketergantungan dan kepercayaan terhadap pasangan. Selanjutnya, kritik dan gaslighting akan dikeluarkan oleh pelaku terhadap korban sehingga masuk ke tahap korban menyerah atas kritik dan gaslighting dari pelaku.
Akhirnya pada fase selanjutnya, korban akan merasa kehilangan dirinya dan berakhir di siklus kecanduan. Kecanduan terjadi akibat ketagihan terhadap pengulangan tahapan love bombing karena merasakan kesenangan dan kepuasan didalamnya.
Ciri-Ciri Trauma Bonding
Trauma bonding atau ikatan trauma memiliki beberapa ciri diantaranya
1. Perasaan takut atau khawatir sehingga korban tertahan dalam relasi
2. Perasaan bersalah, insecure, malu setelah terjadinya kekerasan
3. Pasrah meskipun sebenarnya memiliki keinginan mengakhiri
4. Sikap baik dan jani manis dari pelaku untuk menahan korban dan hubungan
5. Adanya harapan perubahan bagi pelaku dalam diri korban
6. Mengabaikan pengalaman menyakitkan seperti kekerasan verbal non verbal
7. Membesar-besarkan kebaikan pelaku
Cara Mengatasi Trauma Bonding
Cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi terjadinya trauma bonding dalam hubungan adalah dengan merenungkan dan menyadari tentang kehidupan terus berjalan dimulai dari hari ini, siapkan langkah terbaik untuk kedepannya.
Jangan mengharapkan perubahan dari pasangan, fokuskan pada tindakan apa yang telah dilakukan. Hal ini bisa mendorong untuk mampu melepaskan diri dari ikatan trauma.
Cobalah untuk lebih percaya diri, berpikir positif, dan menyadari bahwa diri sendiri adalah sosok berharga yang wajib untuk dijaga dan disayangi.
Editor : Imron Arlado