RADAR MOJOKERTO - Mimpi adalah gambaran pengalaman atau rangkaian kejadian yang terjadi di alam bawah sadar saat tertidur dan ketika berada dalam fase REM. Mimpi memanglah suatu hal lumrah yang bisa terjadi pada siapa saja.
Nah, namun pernahkah Anda bermimpi telah terbangun dari tidur padahal Anda masih dalam keadaan tidur dan sedang bermimpi yang lain? Terdengar aneh, namun fenomena ini terjadi bagi beberapa orang dan dikenal dengan istilah false awakening atau kebangkitan palsu.
Apa Itu False Awakening?
False awakening atau mimpi terbangun adalah kondisi yang terjadi saat seseorang tertidur dan bermimpi telah terbangun dalam mimpi dan memulai mimpi lainnya. Jadi seperti mengalami mimpi bertingkat-tingkat.
Dalam false awakening, Anda akan merasa telah terbangun dan melakukan aktivitas harian seperti biasa dan terasa nyata, padahal pada fase ini Anda belum benar-benar terbangun dan masih berada dalam mimpi.
Sebuah penelitian dari buku berjudul Lucid Dream: The Paradox of Consciousness During Sleep menyebutkan bahwa ada dua tipe false awakening.
False awakening tipe pertama, saat terbangun dari mimpi, Anda akan melakukan aktivitas seperti biasa, dan ketika benar-benar terbangun dari tidur, Anda mungkin akan merasa kebingungan atas mimpi yang dialami.
Pada tipe kedua, false awakening terjadi dengan perasaan tidak biasa, ada kecemasan, kesedihan, dan bahkan ketakutan, sehingga mendorong Anda untuk benar-benar terbangun dan masih merasakan bahwa mimpi itu adalah hal buruk.
Baca Juga: MIN 2 Mojokerto Maju Bermutu Mendunia, Cetak Juara Tingkat Internasional
Faktor Terjadinya False Awakening
1. Gangguan Tidur
Terjadinya false awakening umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti gangguan tidur. Gangguan tidur ini bisa diakibatkan oleh stres baik secara fisik maupun mental sehingga menghasilkan kualitas tidur yang buruk dan menyebabkan false awakening.
2. Hyperarousal
Dilansir dari laman artikel Sleep Doctor menyebutkan bahwa false awakening bisa disebabkan oleh hyperarousal.
Hyperarousal terjadi saat fisik dan mental lebih aktif dari biasanya dan tubuh akan memproduksi zat kimia lebih banyak untuk tetap aktif dan produksi melatonin (zat pemicu tidur) menurun. Kondisi ini bisa menyebabkan terjadinya stres dan insomnia.
Belum pasti disebabkan hyperarousal, namun salah satu penelitian mengatakan bahwa kekurangan tidur berpeluang besar mengalami mimpi terbangun.
3. Protoconsciousness
Proto Consciousness menjadi salah satu faktor kemungkinan terjadinya false awakening. Salah satu penelitian yang dipublikasikan di The International Journal of Dream Research pada 2011 menyebut bahwa mimpi palsu atau false awakening mungkin terkait dengan kondisi mental dimana otak telah bersiap untuk terbangun dari tidur dengan menciptakan model realitas virtual dari aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: Mengenal Istilah Lowkey Relationship, Apakah Sama dengan Backstreet Relationship?
Apakah False Awakening Berbahaya?
False awakening adalah suatu hal yang tidak membahayakan. Hingga kini, belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa false awakening berbahaya bagi kesehatan atau psikologis. Umumnya, hal ini terjadi bisa saja karena Anda terlalu fokus pada suatu hal, kelelahan, dan kurang tidur.
Itu dia beberapa hal tentang false awakening atau kebangkitan palsu atau mimpi terbangun. False awakening memang tidak berbahaya dan bisa terjadi pada siapa saja, namun apakah Anda pernah mengalaminya?
Editor : Imron Arlado