DI bawah kepemimpinan Dr. Nasirudin, SMAN 1 Pacet terus melakukan pembenahan. Ia menguraikan, pembenahan tersebut di antaranya terkait lingkungan sekolah dan ruang belajar, serta yang utama adalah kondisi psikologis di lingkungan sekolah.
Untuk meningkatkan prestasi akademik, pihaknya berencana melakukan kemitraan dengan lembaga eksternal, misalnya dengan perguruan tinggi, widyaiswara, dan bimbingan belajar.
Dalam meningkatkan prestasi nonakademik berbasis kewirausahaan dan soft skill, berencana kerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) Mojokerto.
Untuk sarana prasarana, pihaknya memprogram pembuatan Ruang Kreasi Siswa berbasis multimedia dalam melayani anak-anak yang berminat di bidang seni, misalnya podcast, tari, dan yang lainnya.
’’Kita ingin ciptakan sekolah unggul, berkarakter, dan berprestasi. Di momen penerimaan siswa baru, banyak yang coba kami benahi agar memiliki daya tarik,’’ kata Nasirudin.
Nasirudin juga membeberkan rencana untuk mengoptimalkan beberapa kegiatan ekstrakurikuler, mulai dari olahraga, seni, dan pramuka, paskibra untuk lebih meningkatkan prestasi.
Dia menyadari, kurun waktu beberapa tahun sebelumnya, SMAN 1 Pacet masih belum menjadi rujukan orang tua di wilayah Mojokerto dan sekitarnya, sehingga harus ada upaya pembenahan yang masif.
’’Memang sistem zonasi kita cukup diuntungkan. Namun satu yang harus dipahami, bahwa ada unsur lain yang menjadi pendukung agar sekolah bisa dilirik oleh orang tua,’’ tukasnya.
Nasirudin juga menambahkan, dedikasi dan loyalitas siswa, guru, serta dukungan wali murid melalui jalinan komunikasi selama ini memang terbangun dengan baik.
Sehingga, membuat siswa banyak meraih prestasi dalam bidang akademik maupun nonakademik. Di bidang akademik, SMA Negeri 1 Pacet telah membentuk tim olimpiade mapel dan LKIR (lomba karya tulis ilmiah).
Sedangkan, nonakademik SMA Negeri ini banyak membentuk klub atau tim di ekskul. Selain kewajiban belajar, siswa juga diberi kesempatan mengembangkan ekspresi, skill, dan kreativitas mereka di bidang nonakademik.
SMA Negeri 1 Pacet memiliki beberapa kelompok ekstrakurikuler (ekskul), seperti paskibra, klub olahraga, kelompok ilmiah remaja, palang merah remaja, pencinta alam, klub bahasa Inggris, sampai pramuka.
’’Prestasi di bidang akademik dan nonakademik seimbang. Sehingga, dukungan yang kita berikan juga sama untuk ekskul dan pelajaran. Karena ada siswa yang unggul di bidang pelajaran, dan unggul di bidang ekskul,’’ ujarnya.
Pihaknya selalu mendukung minat dan bakat peserta didik di setiap bidang, baik pelajaran, sains, olahraga, atau kesenian. Ia menambahkan, bagi siswa yang berkeinginan dan sungguh-sungguh, sekolah berkomitmen untuk mendukung penuh.
Kemudian, memberikan motivasi penuh bagi para peserta didik yang berhasil dan berprestasi. ’’Kami concern memotivasi peserta didik untuk berprestasi,’’ pungkasnya.
Dukung Ketahanan Pangan, Jadi Pilot Project
DINAS Pendidikan Provinsi Jawa Timur menunjuk puluhan sekolah sebagai pilot project program peduli pangan sekolah atau school food care. SMAN 1 Pacet menjadi satu-satunya pionir sekolah dengan program tersebut di Mojokerto Raya.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Jawa Timur Wilayah Kabupaten-Kota Mojokerto, Mudianto, menuturkan, dinas pendidikan provinsi telah menunjuk proyek percontohan di 29 SMA negeri yang tersebar di berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur.
Di mana, satu daerah memang diwajibkan memiliki sekolah yang dijadikan pilot project program peduli pangan sekolah. ’’SMAN 1 Pacet satu-satunya, karena sebagai pilot project awal dan dengan melihat kesiapan sekolah yang sudah siap di Pacet,’’ katanya.
Dengan memanfaatkan lahan di area sekolah, penerapan school food care tidak sekadar program untuk bercocok tanam. ’’Tujuan utamanya untuk mendukung ketahanan pangan, tapi di lingkungan sekolah. Dengan harapan apa yang sudah dilakukan di sekolah, bisa diimplementasikan siswa di rumahnya,” jelas dia.
Dalam program tersebut, siswa akan dilibatkan secara langsung, seperti mengelola kebun sekolah, rumah kaca, hingga pengolahan hasil panen menjadi makanan sehat. ’’Selain untuk warga sekolah, nanti hasilnya juga dijual ke pasar. Tapi, hasil jualnya nanti dibelikan bibit tanaman lagi agar bisa produksi ulang,” paparnya.
Di samping itu, program school food care juga diwacanakan sebagai laboratorium sekolah. Artinya, siswa tak lagi harus belajar di laboratorium dalam kelas saja. ’’Melainkan bisa di tempat terbuka, dengan memanfaatkan lahan yang sudah menerapkan program school food care tersebut,’’ imbuh Mudianto.
Dia menegaskan, ke depan tidak menutup kemungkinan semua sekolah di Mojokerto Raya akan terimbas program tersebut. Apalagi, sejauh ini mayoritas sisa lahan sekolah tingkat SMA/SMK negeri bisa dimanfaatkan untuk ketahanan pangan. ’’Memang arahnya nanti semua sekolah menerapkan program ini, tapi secara bertahap,’’ pungkasnya. (bas/fen)
Editor : Imron Arlado