Itu sebagaimana diungkapkan Kepala Cabdindik Jawa Timur wilayah Kabupaten-Kota Mojokerto, Mudianto. Ia mengatakan, keterlibatan peserta EJIES 2025 mengalami peningkatan pesat. Tak hanya dari jumlah saja, namun juga dari sisi kualitas karya inovasi yang dikumpulkan. ’’Cakupan peserta yang ikut pun juga meluas tahun ini. Jika sebelumnya hanya diikuti oleh guru dan tenaga kependidikan, di tahun ini, unsur Cabdindik juga ikut di dalamnya,’’ ujarnya.
Detailnya, tahun ini empat orang tenaga kependidikan Cabdindik Jawa Timur wilayah Kabupaten-Kota Mojokerto juga ikut mengirimkan karya inovasi, serta disusul enam pengawas, 135 peserta guru, maupun tenaga kependidikan SMA, 256 SMK, dan 4 dari SLB. ’’Tentunya, ini mendorong kreativitas seluruh unsur Cabdindik agar lebih kuat lagi, berdasarkan karya inovasi yang sudah terdokumentasikan ini,’’ imbuhnya.
Mudianto menyebut, Cabdindik Mojokerto sangat antusias menyambut gelaran ini. Sebab, diharapkan dari ratusan karya yang telah terkumpul, nantinya bisa memberikan dampak positif bagi kegiatan pembelajaran di kalangan siswa. ’’Event EJIES 2025 menjadi evaluasi kami untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam memberikan pelayanan pendidikan yang berdampak bagi siswa,’’ tandasnya.
Manajer Event Jawa Pos Radar Mojokerto, Arief Hikmawan mengatakan, hasil penilaian 10 karya terbaik yang telah diumumkan telah melewati proses penilaian karya dari dewan juri. Itu meliputi kreativitas dan orisinalitas inovasi, serta dampak atau manfaat inovasi bagi pendidikan. ’’Kita juga menilai keberlanjutan program inovasi, serta presentasi dan dokumentasi inovasi yang dikirim oleh peserta EJIES sebagai bahan pertimbangan saat menyeleksi,’’ tuturnya.
Event yang diselenggarakan dalam bentuk kerja sama antara Jawa Pos, Dinas Pendidikan Jawa Timur, serta ITS ini menggandeng Jawa Pos Radar untuk penilaian di wilayah cabang dinas masing-masing. Dari tim Jawa Pos Radar Mojokerto, menggandeng akademisi Universitas Bina Sehat PPNI untuk melakukan penilaian. ’’10 besar karya terbaik ini bakal melanjutkan ke jenjang berikutnya, yakni tingkat provinsi,’’ terang Arief.
Dengan jumlah 400 peserta, Arief menyatakan, baik guru maupun tenaga kependidikan antusias berlomba melakukan inovasi teknologi pembelajaran. Termasuk terkait persiapan mulai dari pembuatan video, proposal, deskripsi inovasi, serta lainnya. ’’Untuk sistem ranking memang ketat. Sebab dari pedoman penilaian ini sudah ada, sehingga selisih nilai antarpeserta sedikit,’’ imbuhnya.
Sekadar diketahui, pendaftaran dan pengumpulan proposal EJIES telah dibuka pada 3 Februari-15 Mei lalu. Setelah diumumkan, sepuluh karya terbaik ini bakal mengikuti coaching clinic dan penilaian pada 13 Maret-15 Juli. Terakhir, 25 karya inovasi terbaik akan mengikuti showcase atau presentasi publik pada Agustus mendatang. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah