JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Istilah sosial chameleon memang terdengar asing di telinga sebagian orang. Istilah ini merujuk kepada kepribadian seseorang yang mampu beradaptasi di setiap lingkungan sosial yang baru.
Sosial chameleon seringkali disebut dengan kepribadian bunglon. Seperti yang kita tahu bunglon memiliki kemampuan untuk berkamuflase saat berpindah tempat guna penyesuain untuk dirinya.
Maka dapat kita lihat seseorang yang memiliki kepribadian sosial chameleon dapat menyesuaikan perilaku tergantung dengan tempat ia berinteraksi. Dengan begitu orang lain akan merasa nyaman dengan seseorang yang memiliki kepribadian sosial chameleon.
Selain memiliki dampak positif seperti pernyataan diatas, sosial chameleon memiliki sisi negatif. Jika terlalu sering menerapkan sosial chameleon seseorang akan menjadi kebingungan terhadap jati dirinya yang asli. Hal ini juga berdampak untuk lawan interaksi kamu, mereka akan meragukan karakter asli dirimu.
Baca Juga: Desa Trawas, Kecamatan Trawas Gandeng Kaum Muda dalam Menjaga Keseimbangan Alam
4 Tanda Seseorang Memiliki Kepribadian Sosial Chameleon
- Memberikan Kesan Emas saat Pertama Kali Berinteraksi
Daripada menunjukkan karakter asli pelaku sosial chameleon memilih untuk memberikan kesan yang baik sejak pertemuan pertama. Sisi positif yang mereka berikan bertujuan sebagai penyamaran demi diterima oleh orang baru.
Mereka mampu memikat orang baru dan memiliki tingkat adaptasi yang tinggi. Maka dari itu mereka mampu menyesuaikan diri secara cepat dengan lawan bicaranya.
Baca Juga: PT Telkom Belum Melapor ke Polisi, Lima Pelaku Dipulangkan
- Memiliki Banyak Teman
Orang dengan kepribadian sosial chameleon memang sangat ahli dalam hal berinteraksi, sehingga ia mampu memiliki lingkup sosial yang luas. Mereka mampu menyatu dengan orang yang introvert, ekstrovert, hingga ambivert.
Meskipun memiliki jaringan pertemanan yang luas, mereka seringkali merasa kesepian. Hal ini disebabkan karena relasi yang dibentuk hanyalah bersifat permukaan, bukan karena koneksi emosional yang mendalam.
- Memiliki Imposter Syndrome
Terlalu sering menerapkan sosial chameleon, mereka rentan mengalami imposter syndrome. Dimana seseorang akan merasa dirinya bukanlah sosok yang autentik dan berusaha untuk berpura-pura menjadi orang lain.
Mereka akan berusaha menjadi jati diri seseorang yang diinginkan oleh orang lain. Jika terus dilakukan akan berdampak buruk terkena tekanan mental dan dapat memicu timbulnya kecemasan tinggi.
Baca Juga: Rumah di Jalan Brawijaya Terbakar, Merugi Seperempat Miliar
- Tidak Menunjukkan Isi Hati
Tanda sosial chameleon selanjutnya yaitu mereka enggan menunjukkan perasaan dan isi hati sebenarnya. Mereka merasa takut jika menunjukkan sisi rapuh dan kekecewaannya orang lain akan tidak suka dengan dirinya. Akibatnya ia akan terus memakai topeng sosial demi mewujudkan ekspektasi orang lain mengenai dirinya.
LAILA
Editor : Imron Arlado