RADAR MOJOKERTO - Hubungan antar lawan jenis memang terkesan dekat dengan aspek romantis. Hubungan romantis sendiri melibatkan perasaan mendalam seseorang terhadap orang lainnya, dan hal ini berhubungan dengan cinta dan kasih sayang lebih dari sekadar teman biasa.
Namun pernahkah Anda mengenal istilah platonic relationship? Sebuah istilah yang muncul dari zaman Plato, filsuf Yunani Kuno. Istilah yang kemudian lebih familiar setelah dibahas lebih lanjut oleh salah seorang filsuf Italia abad 14, Marsilio Ficino.
Marsilio Ficino mengenalkan cinta platonik sebagai bentuk kasih sayang antar individu dengan tujuan mulia. Kemuliaan ini datang akibat tidak adanya batas atau syarat dalam menjalin hubungan platonik.
Secara definisi, cinta platonik atau platonic relationship merupakan penyebutan atas hubungan dua orang atau lebih tanpa melibatkan perasaan dan hasrat seksual di dalamnya.
Sebenarnya, platonic relationship tak hanya berkutat pada seksualitas atau jenis kelamin saja. Lebih jauh, hubungan platonik bisa terjadi pada siapa saja, termasuk hubungan orang tua - anak, sesama saudara, pertemanan perempuan dengan perempuan, laki-laki dengan laki laki, bahkan perempuan dengan laki-laki.
Jika kebingungan menggali lebih jauh tentang platonic relationship, berikut ciri-ciri platonic relationship yang bisa diketahui.
1. Hubungan begitu dekat
Platonic relationship melibatkan hubungan dua orang atau lebih yang begitu dekat. Mungkin Anda pernah mendengar tentang hubungan persahabatan yang langgeng dan selalu bersama kemanapun itu. Nah, dalam hubungan platonik hal itulah yang terjadi.
Baca Juga: Mengenal Pekerjaan Ibrahim Sjarief Assegaf, Suami Najwa Shihab yang Meninggal karena Stroke
2. Ketulusan tanpa pengharapan
Dalam hubungan platonik, ketulusan adalah keutamaan. Seseorang tidak akan mengharapkan apapun dalam hubungan, seperti misalnya berharap menjadi pasangannya kelak.
Hubungan platonik adalah hubungan yang stabil. Sebab tak ada syarat atau pengharapan tertentu yang mengikutinya.
3. Menerima apa adanya
Penerimaan juga menjadi ciri dari hubungan platonik. Seseorang tanpa melibatkan perasaan atau hasrat seksual akan tampak berbeda dengan yang memiliki hasrat seksual jika mereka bertemu.
Dalam hubungan platonik, tidak ada tuntutan untuk selalu terlihat sempurna dalam setiap kesempatan. Jadi, hubungan platonik sifatnya saling menerima apa adanya, baik itu kelebihan maupun kekurangan.
4. Adanya kebebasan tanpa ketakutan
Platonic relationship memiliki kecenderungan bebas mengekspresikan dirinya tanpa khawatir ditinggalkan. Kasih sayang murni tanpa harap dan syarat mendukung seseorang lebih ekspresif dan tanpa ada malu-malu menunjukkan dirinya.
Meski terbilang stabil, hubungan platonik juga bisa saja renggang, namun ini tak akan menjadi ketakutan tersendiri. Platonic relationship bebas berhubungan dengan orang lain tanpa takut seseorang itu akan ‘diambil’ darinya.
5. Kuatnya rasa percaya
Terjalin rasa percaya dalam hubungan platonik. Platonic relationship melibatkan kepercayaan mendalam. Seseorang akan merasa nyaman dan percaya untuk menceritakan tentang dirinya, berkeluh kesah tanpa takut dihakimi atau ditinggalkan.
Meski dikenal dengan hubungan tanpa syarat dan pengharapan, nyatanya ada berbagai pendapat terkait batasan dalam platonic relationship begitu. Hal ini sempat dibahas oleh akun @saskhya.ap, seorang psikolog melalui video TikTok yang diunggah pada (10/12/2023).
“Memang batasan hubungan platonik ini, somehow berbeda beda untuk tiap orang. Ada yang ngerasa berubah romantis ketika sudah ada physical touch atau mungkin sudah dikenalin ke keluarga dan lain sebagainya” ujar Saskhya.
Dalam hubungan platonik lawan jenis memang bisa terjadi dan sering dijumpai. Kendati demikian, hubungan platonik yang mencakup interaksi lawan jenis rentan menjadi hubungan romantis.
Adapun manfaat dari menjalin platonic relationship adalah mengurangi tingkat stress. Memiliki seseorang yang senantiasa ada tanpa batasan, saling memahami, mendukung, bebas dari rasa sepi dan menjadi pendengar yang baik tentu akan mengurangi tingkat stress dalam diri seseorang.
Editor : Imron Arlado