JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Generasi Z merupakan generasi yang lahir antara tahun 1997 sampai 2012, berdasarkan sensus penduduk pada 2020, popularitas Gen Z mencapai lebih dari seperempat dari jumlah penduduk Indonesia.
Gen Z tumbuh dengan peran digital, internet dan teknologi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Generasi ini memiliki kebiasaan dan karakteristik yang berbeda dibanding generasi sebelumnya, mereka cenderung lebih up-to-date terhadap isu yang tengah berkembang di media sosial.
Beberapa waktu lalu, tren penggunaan ‘second account’ atau akun kedua di media sosial tengah marak di kalangan Gen Z.
Second account lebih banyak digunakan di platform sosial media seperti Instagram, Twitter, hingga Tiktok, mereka menggunakan akun tersebut untuk tujuan tertentu.
Second Account sebagai Dual Identity
Mengutip dari berbagai sumber, second account yang digunakan oleh Gen Z merupakan bentuk dual identity yang di alami Gen Z.
Teori ini mencakup dua konsep, yakni ‘front stage’ dan ‘back stage’. Front stage sendiri merupakan interaksi sosial yang terjadi di umum atau identitas yang ditunjukkan pada akun utama mereka.
Pada akun utama, Gen Z akan cenderung menciptakan kesan sesuai keinginan mereka. Sementara back stage merupakan suatu ruang untuk mengekspresikan diri tanpa adanya tekanan dari warganet.
Alasan Gen Z Menggunakan Second Account
Generasi Z menggunakan akun kedua untuk berbagai tujuan, salah satunya adalah untuk kebebasan ekspresi hingga kebutuhan privasi.
- Kebutuhan Privasi
Second account bersifat personal dan privat yang bisa digunakan sebagai topeng untuk seseorang, dengan begitu seseorang dapat berekspresi dengan bebas tanpa ada tekanan dari publik.
Branding seseorang bisa sempurna saat dilihat dari luar, namun biasanya berbanding terbalik saat di second account.
Pasalnya, second account dapat dijadikan sebagai zona aman dalam mengungkapkan jati diri yang sebenarnya, di mana hanya bisa dilakukan di depan orang terdekat.
- Ruang Untuk Mengekspresikan Diri
Akun kedua kerap dijadikan sebagai tempat mengekspresikan diri dengan leluasa, seseorang dapat berkreasi tanpa khawatir dengan opini dan eksposur publik.
Gen Z cenderung menginginkan citra diri yang selalu tampak tampil ideal di depan masyarakat, sehingga mereka biasanya akan menjadi diri sendiri dalam second account-nya.
Dalam second account, mereka sering kali membagian video atau foto random yang bersifat pribadi dan hanya berisi orang terdekat yang mereka percayai dan dirasa aman untuk menunjukkan jati diri sebenarnya.
- Tekanan Sosial yang Besar
Kalangan anak muda sering kali mengedepankan konten visual yang mengedepankan estetika dan kesempurnaan.
Selain itu, Gen Z cenderung memiliki ketertarikan kepada ektetika yang dijadikan sebagai citra diri dan identitas terhadap profil yang lebih ideal di media sosial mereka.
Hal tersebut menjadikan mereka terjebak dalam tekanan untuk selalu mengedepankan konten yang tampak sempurna.
DINDA
Editor : Imron Arlado