Jawa Pos Radar Mojokerto - Film Mungkin Kita Perlu Waktu tak hanya berhasil buat penonton terbawa suasana sedih melalui alur ceritanya, tapi juga beri gambaran proses emosional panjang yang menimpa tokoh Restu, Kasih, dan Ombak setelah meninggalnya Sara.
Proses menjalani kehidupan setelah berduka dari ketiga tokoh tersebut terlihat berbeda-beda. Dari yang berusaha tegar, cari ketenangan lewat Tuhan, hingga depresi berkepanjangan turut jadi sorotan mendalam pada film Mungkin Kita Perlu Waktu.
Salah satu pendekatan psikologis yang relevan dengan tema film ini adalah teori ‘5 Tahapan Berduka’ atau familiarnya Five Stages of Grief yang lahir dari penelitian oleh psikolog Elisabeth Kübler-Ross pada tahun 1969 dalam bukunya On Death and Dying.
Ternyata penulis film Mungkin Kita Perlu Waktu dalam press screening beberapa waktu lalu juga mengaku pada awak media bahwa film ini menggambarkan teori ‘Lima Tahapan dalam Berduka’.
Oleh sebabnya, kisah proses emosional tiap karakter di film garapan Teddy itu seperti merepresentasikan tahapan-tahapan dalam berduka pada karya Elisabeth.
Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai 5 tahapan dalam berduka hasil penelitian dari psikolog asal Amerika-Swiss itu.
Baca Juga: Mengapa Move On dari Mantan Terasa Sulit Dilakukan dengan Cepat? Begini Penjelasannya secara Ilmiah
1. Penolakan - Denial
Fase penolakan biasanya sering terjadi di masa awal berkabung, tetapi juga tidak menutup kemungkinan emosi ini justru akan muncul setelah lewati fase ke-5.
Pada tahap denial ini sebagian orang awalnya akan berpura-pura untuk tegar dan menunjukkan sisi baik-baik saja.
Walaupun penolakan juga termasuk dalam mekanisme pertahanan hidup yang sering dilakukan banyak orang, tapi jika terus-menerus hidup dalam penyangkalan tentu akan berimbas pada kesulitan untuk melanjutkan hidup.
Jika dikaitkan dengan film Mungkin Kita Perlu Waktu, fase ini mirip dengan yang dialami tokoh Restu yang berpura-pura tegar di hadapan istri dan anaknya pascakepergian putri sulungnya.
2. Kemarahan - Anger
Pada tahapan anger, perasaan marah tersebut bisa mengarah pada diri sendiri atau ke orang lain. Di fase inilah banyak dijumpai orang-orang yang kehilangan kontrol atas hidupnya.
Biasanya orang-orang yang berada di fase ini akan mulai mempertanyakan kenapa aku? Kenapa harus dia? Dan lain sejenisnya.
Baca Juga: Cek Kepribadianmu! Ekstrovert atau Introvert? Cari Tahu Hasilnya Lewat Tes MBTI Gratis Ini
3. Tawar-menawar - Bargaining
Berandai-andai adalah kegiatan rutin yang dilakukan sebagian orang ketika mencapai tahapan bargaining dalam berduka. Pada tahap ini, seseorang mulai membuat kesepakatan atau harapan-harapan khayal agar kehilangan itu tidak nyata.
Oleh sebab itu, tawar-menawar dapat menjadi bentuk pertahanan melawan emosi kesedihan yang berlarut-larut saat sedang berduka
4. Depresi - Depression
Selama tahap depresi yang dialami saat berduka, seseorang secara perlahan mulai menyadari kondisi yang sebenarnya terjadi.
Kesadaran alami itulah yang berkontribusi membuat seseorang putus asa atas takdirnya hingga berdampak untuk menarik diri dari lingkungan sekitar.
Baca Juga: 12 Bunga Ini Cerminkan Karakter Seseorang Berdasarkan Bulan Lahir. Sudah Tahu Apa Bungamu?
5. Penerimaan - Acceptance
Tahap terakhir dari teori ‘5 Tahapan Berduka’ atau familiarnya Five Stages of Grief oleh psikolog Elisabeth Kübler-Ross adalah penerimaan.
Bukan berarti tiap orang berhasil capai fase acceptance itu telah bebas dari rasa kesedihan dalam berduka. Namun, hanya saja untuk memastikan bahwa orang tersebut telah menerima takdirnya.
Film Mungkin Kita Perlu Waktu secara halus mengajak penonton menyadari bahwa duka bukanlah sesuatu yang bisa disederhanakan. Melainkan, setiap orang punya cara dan waktu berbeda untuk melewatinya.***