JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Hari Raya Kuningan merupakan hari besar bagi umat Hindu Bali, Hari Raya Kuningan juga rangkaian dari Hari Raya Galungan karena waktu perayaannya berdekatan.
Hari Raya Kuningan pada tahun 2025 ini akan terlaksana sebanyak dua kali dalam kurun satu tahun. Perayaan pertama berlangsung pada, 3 Mei 2025, sementara yang kedua akan terlaksana pada, 29 November 2025.
Sebagai bagian dari rangkaian hari besar keagamaan yang sangat penting bagi umat Hindu, Hari Raya Kuningan menjadi momen penuh makna sekaligus sarat nilai spiritual. Hari raya ini bukan hanya dijalani sebagai tradisi, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan dan penyucian diri secara spiritual.
Untuk mengenal lebih dalam mengenai makna, rangkaian upacara, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, informasi ini akan menyajikan penjelasan lengkap seputar Hari Raya Kuningan. Simak penjelasannya berikut ini.
Makna Hari Raya Kuningan
Hari Raya Kuningan merupakan hari yang digunakan umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma di 1.200 tahun lalu.
Tradisi di Hari Raya Kuningan biasanya Umat Hindu menyajikan persembahan untuk leluhur dengan tujuan agar diberi kemakmuran, perlindungan, keselamatan, serta sebagai tuntunan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Hari Raya Kuningan berasal dari kata “uning” yang memiliki arti ingat, lalu kuningan juga mempunyai kata dasar “kuning” yang berarti makmur.
Tetapi umat Hindu tidak memaknai Hari Raya Kuningan dari kata”kuningan” tersebut. Melainkan dimaknai dari simbol-simbol banten (sesajen) yang khas disajikan saat kuningan seperti tamiang, endongan atau kompek dalam bentuk tas, selanggi dan banten tebog.
Setiap banten mempunyai makna mendalam di penyelenggaraan Kuningan tersebut. Seperti tamiang yang berarti tameng dalam Kuningan dimaknai sebagai perayaan yang pasti mempertahankan kemenangan dharma (kebenaran) yang dirayakan ketika galungan.
Sementara itu, jika dikaitkan dengan perlengkapan tamiang yang terdiri atas ter dan kolem keduanya merupakan jenis senjata tradisional maka unsur Kuningan dalam tradisi tersebut dapat dimaknai sebagai lambang atau simbol ajakan untuk senantiasa berjaga dan berjuang melawan segala bentuk adharma atau kejahatan dan ketidakbenaran.
Perlengkapan ini mengandung pesan spiritual bahwa manusia harus terus memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dalam kehidupannya. Selain itu, adanya endongan yang di dalamnya berisi lauk pauk juga mengandung makna simbolis sebagai perlambang bekal atau perbekalan yang harus dipersiapkan saat menghadapi "pertempuran" dalam hidup, baik secara fisik maupun batiniah.
Lebih lanjut, terdapat pula berupa tebog dan selanggi yang berisi nasi kuning, di mana di atas nasi tersebut diletakkan gambar wayang-wayangan yang mewakili tokoh-tokoh dari Panca Pandawa dan Sri Rama.
Alasan Umat Hindu mempersembahkan banten tebog dan selanggi dengan tujuan mempunyai kehidupan yang makmur, selaras dengan simbol tebog dan selanggi tersebut.
TASYA
Editor : Imron Arlado