JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Kabar membanggakan datang dari dunia perfilman Tanah Air. Film horor Indonesia berjudul Angkara Murka diumumkan sebagai satu-satunya wakil Indonesia di ajang Far East Film Festival (FEFF) 2025 yang digelar di Udine, Italia.
Angkara Murka merupakan film panjang pertama dari Eden Junjung, sutradara muda yang sebelumnya dikenal lewat karya-karya pendeknya. Film ini mengusung genre horor dengan pendekatan personal dan reflektif, serta menyoroti sisi gelap trauma manusia melalui kisah seorang perempuan.
Film ini mengisahkan tentang Ambar, seorang ibu muda yang terpaksa bekerja sebagai buruh tambang pasir setelah suaminya menghilang secara misterius.
Dalam keseharian yang keras dan penuh tekanan, Ambar menghadapi gangguan tak kasat mata yang perlahan membangkitkan luka serta trauma masa lalunya.
Cerita ini menyajikan horor bukan hanya sebagai elemen luar, tetapi juga sebagai gambaran ketakutan batin dan emosi yang terkubur.
Peran Ambar dibintangi oleh Raihaanun sebagai pemeran utama. Ia menggambarkan karakter Ambar sebagai sosok yang kuat namun rapuh, menyimpan ketakutan, kesunyian, dan duka yang dalam.
“Ambar adalah sosok yang penuh luka, diam, tapi sebenarnya berteriak. Dia perempuan yang kuat, meski kekuatannya lahir dari rasa duka yang dalam,” jelas Raihaanun dalam sebuah pernyataan resmi, Jumat (11/4).
Selain Raihaanun, film ini juga dibintangi oleh Simhala Avadana, Whani Darmawan, Rukman Rosadi, dan Aksara Dena, yang semuanya terlibat dalam membangun kesan emosional dan mencekam sepanjang film.
Di kancah internasional, Angkara Murka diberi judul Mad of Madness dan akan menjalani world premiere di FEFF 2025. Tidak hanya tampil sebagai wakil Indonesia, film ini juga masuk dalam nominasi White Mulberry Award for Best Debut Feature, sebuah penghargaan yang ditujukan bagi film debut terbaik dari Asia.
Eden Junjung menjelaskan bahwa dirinya ingin menggarap film horor dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan mendalam.
“Bagi saya, horor paling nyata kadang bukan datang dari luar, tapi dari dalam diri sendiri—dari luka yang terus kita abaikan,” ucap Eden.
Film ini diproduksi oleh Forka Films, rumah produksi yang dipimpin oleh sutradara berpengalaman Ifa Isfansyah.
Sebelumnya, Angkara Murka juga telah mendapat perhatian di kancah Asia saat terpilih dalam program NAFF It Project Market di ajang Bucheon International Fantastic Film Festival (BiFan) 2024 di Korea Selatan, yang dikenal sebagai sebuah forum penting untuk pengembangan film bergenre.
Keikutsertaan Angkara Murka di FEFF 2025 diharapkan menjadi jembatan bagi sinema Indonesia, khususnya genre horor, untuk dikenal lebih luas di dunia internasional.
Dengan pendekatan yang tidak hanya menyeramkan, tetapi juga menyentuh sisi emosional dan spiritual manusia, film ini menghadirkan warna baru dalam perfilman horor Indonesia.
Festival film Far East Film Festival sendiri dikenal sebagai ajang bergengsi yang menyoroti film-film terbaik dari Asia Timur dan Tenggara.
Keterlibatan Angkara Murka di festival ini sekaligus menjadi sinyal bahwa sinema Indonesia, khususnya film debut dari sineas muda, memiliki potensi besar untuk bersaing di panggung global. NESTYA
Editor : Imron Arlado