Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Tayang 17 April 2025, Berikut 5 Fakta Menarik Film Pengepungan di Bukit Duri yang Siap Sajikan Ketegangan

Imron Arlado • Sabtu, 12 April 2025 | 03:31 WIB
Tayang 17 April 2025, Berikut 5 Fakta Menarik Film Pengepungan di Bukit Duri yang Siap Sajikan Ketegangan. sumber foto: ig @fatihunru
Tayang 17 April 2025, Berikut 5 Fakta Menarik Film Pengepungan di Bukit Duri yang Siap Sajikan Ketegangan. sumber foto: ig @fatihunru

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Disutradarai dan ditulis oleh Joko Anwar, film berjudul Pengepungan di Bukit Duri yang mengusung genre thriller dan aksi ini dijadwalkan rilis di seluruh bioskop tanah air pada 17 April 2025.

Berlatar Indonesia pada tahun 2027 yang sedang dilanda kekacauan, film ini menyoroti realitas kekerasan antar kelompok remaja yang dipicu oleh diskriminasi rasial dan kebencian yang mengakar di masyarakat.

Kisah ini berpusat pada Edwin (Morgan Oey), guru pengganti yang mendapat tugas mengajar di SMA Duri, sekolah yang menampung siswa-siswa bermasalah.

 

Awalnya, ia hanya berniat menjalankan tugas sekaligus mencari keponakannya yang menghilang. Namun situasi berubah drastis saat ia terseret ke dalam lingkungan yang penuh kekerasan.

Keadaan semakin genting ketika kerusuhan besar terjadi di luar sekolah, memaksa Edwin, para murid, dan Diana (Hana Pitrashata Malasan), sesama guru, terkurung dalam kondisi berbahaya.

 

Berikut 5 Fakta Menarik Film Pengepungan di Bukit Duri:

Bertema isu kekerasan di kalangan remaja

Film Pengepungan di Bukit Duri menjadi proyek pertama Joko Anwar yang menyoroti isu remaja, diperankan oleh para aktor muda berbakat Indonesia. Terinspirasi dari realitas kekerasan yang masih marak di masyarakat, film ini menyoroti peran penting remaja sebagai generasi penerus, serta bagaimana sikap orang dewasa turut membentuk mereka.

Melalui karakter-karakter dengan latar yang beragam, film ini menyajikan sudut pandang berbeda dalam menanggapi kekerasan, sekaligus mengajak penonton untuk merefleksikannya.

 

Naskah ditulis selama 17 tahun

Joko Anwar mulai menulis naskah Pengepungan di Bukit Duri sejak 2007. Bersama produser Tia Hasibuan, ia secara berkala merevisi ceritanya agar semakin relevan dan mudah diterima penonton.

Proyek ini memakan waktu panjang karena Joko ingin menunggu hingga merasa cukup matang, baik secara pribadi maupun profesional, untuk menyampaikan pesan anti-kekerasan yang menjadi inti film tersebut.

“Film ini membutuhkan kedewasaan sebagai sineas. Saya telah menunggu selama 17 tahun untuk menyempurnakan skenarionya, dan saat ini saya merasa sudah siap untuk membuat film ini. Ada isu yang sangat penting dalam film ini, dan jika tidak dilakukan dengan benar, pesan yang ingin disampaikan bisa jadi tidak sampai,” ungkap Joko.

 

Berkolaborasi dengan Hollywood

Film Pengepungan di Bukit Duri merupakan hasil kerja sama antara Come and See Pictures dan Amazon MGM Studios, sekaligus menandai kolaborasi perdana studio Hollywood tersebut dengan rumah produksi Asia Tenggara untuk film layar lebar.

Kerja sama ini dimulai sejak 2021, berawal dari visi bersama untuk menjalin kolaborasi internasional. Proyek ini akhirnya rampung pada 2024.

Produser Tia Hasibuan menyebut kesamaan visi menjadi kunci terjalinnya kolaborasi, sementara James Farrell dari Amazon MGM Studios menyebut proyek ini sebagai pencapaian penting dan kolaborasi pertama mereka bersama Joko Anwar.

 

Proses casting selama 4 bulan

Dalam proses pencarian pemain Pengepungan di Bukit Duri, Joko Anwar bekerja sama dengan casting director selama kurang lebih empat bulan.

Ia mengaku sempat merasa frustrasi karena sulit menemukan aktor yang benar-benar cocok dengan karakter dalam cerita. Setiap peran melalui seleksi ketat, dengan rata-rata 20 peserta audisi untuk satu karakter.

“Secara jujur, pencarian pemain untuk film ini adalah yang paling sulit dalam karier saya, karena karakter yang dihadirkan sangat kompleks dan memiliki banyak lapisan. Kami mencari pemain selama berbulan-bulan, bahkan beberapa kali hampir frustrasi karena tidak mendapatkan yang sesuai,” jelasnya.

 

 

Set dunia film yang menghidupkan cerita

Berlatar Indonesia tahun 2027 yang digambarkan dalam kondisi kacau dan terpuruk, Pengepungan di Bukit Duri menggunakan bangunan bersejarah Laswi Heritage di Bandung sebagai lokasi SMA Bukit Duri.

 

 

Dalam cerita, sekolah ini dulunya adalah penjara, sehingga tim artistik merancang dua versi bangunan dan membangun 22 set, termasuk ruang kelas, lorong, hingga ruang kepala sekolah.

Selain sekolah, latar pecinan bawah tanah turut ditampilkan sebagai simbol kemunduran sosial, dengan suasana kotor, penuh coretan, dan kekacauan di sekelilingnya.

FITRI

Editor : Imron Arlado
#Diskriminasi Rasial #genre aksi #Kalangan Remaja #joko anwar #Film Pengepungan di Bukit Duri #morgan oey #layar lebar #Genre thriller