Ketinggian banjir bertahap meningkat sejak pukul 04.00. Sedikitnya, tujuh rumah warga di Dusun Tempuran terdampak.
Selain itu, SDN Tempuran, halaman balai desa hingga persawahan turut tergenang. Tinggi banjir bervariasi. Di sekolah dan balai desa sekitar 15 cm. Dan sekitar 15 - 50 cm di rumah warga.
"Sebenarnya banjir ini mulai tadi malam, pas hujan deras. Tapi terus tambah tinggi pagi tadi," ujar Warsono, warga setempat.
Banjir luapan membuat akses jalan penghubung Desa Tempuran - Mojoranu terputus. Salah satu titik jalan beton tergenang air dengan ketinggian sekitar 30 cm.
"Kalau motor maksa lewat bisa mogok. Lebih baik putar ke kota atau ke jombang," ungkap pria paro baya ini. Menurutnya, banjir dipicu tingginya intensitas hujan sejak Rabu (22/1) sore.
"Ini ya karena kiriman dari Jombang. Ketambahan Dam Sipon juga sudah nggak ngatasi kalau kena debit tinggi begini," tandas Warsono.
BPBD Kabupaten Mojokerto mencatat, total 97 hektare lahan pertanian di Dusun Tempuran dan Bekucuk diterjang banjir.
"Banjir disebabkan curah hujan tinggi di wilayah Jombang dan Mojokerto. Dan ada klep irigasi persawahan yang tidak berfungsi," beber Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Abdul Khakim, terpisah.
Menurutnya, hingga kini tren banjir bertahap meningkat. Dua pompa banjir milik BBWS Brantas telah disiagakan di pintu Dam Sipon untuk menekan tingginya debit banjir.
"Sejak pagi dua pompa banjir milik BBWS sudah dinyalakan untuk membuang air ke aliran Sungai Brantas," tandasnya.
Awal Desember lalu Desa Tempuran, Ngingasrembyong dan Mojoranu, Kecamatan Sooko, direndam banjir luapan aliran Sipon Watudakon. Ribuan rumah warga terdampak banjir yang berlangsung sekitar sepekan itu.
Hingga Pemkab Mojokerto memberlakukan status tanggap darurat bencana dan mendirikan posko pengungsian. (vad)
Editor : Fendy Hermansyah