Gus Dulloh mengatakan, jika wakil bukan sekadar ban serep atau cadangan, tetapi keberadaannya untuk menyempurnakan tugas pemimpin dalam hal ini adalah bupati Mojokerto.
Sebab, bupati maupun wakil bupati masing-masing mempunyai Tupoksi dan tanggung jawab. Artinya bila masih ada yang beranggapan seorang wakil itu tidak berguna bahkan tidak mau bekerja, maka perlu dicari mengapa seperti itu?.
"Satu kemungkinan yang bersangkutan tidak tahu bagaimana caranya menjadi wakil, atau orang ini tidak pernah membaca aturan organisasi," terangnya di tengah doa bersama bertajuk Gondang bersalawat untuk Ikfina-Gus Dulloh jadi bupati dan wakil bupati Mojokerto 2025-2030, di Lapangan Kesono, Kecamatan Gondang, pada Jumat (22/11) malam.
Gus Sa’dulloh Syarofi mengambil contoh kecil, seperti rektor di sebuah universitas yang memiliki tiga wakil rektor, di mana wakilnya memiliki peran dan tupoksi serta masing-masing punya tanggung jawab.
Sama halnya dengan bupati dan wakil bupati, mereka memiliki tugas dan tanggung jawabnya sendiri karena tidak ada jabatan yang menganggur.
"Maka kalau misalnya nanti, Bu Ikfina menjadi bupati dan saya menjadi wakil bupati. Maka yang dikerjakan oleh Bu Ikfina adalah tanggung jawabnya bupati, dan yang saya kerjakan adalah tugas serta tanggung jawabnya sebagai wakil bupati," ungkap Gus Dulloh disambut riuh tepuk tangan dari masyarakat Kabupaten Mojokerto.
Putra kiai karismatik, KH Chusaini Ilyas ini memastikan dirinya bersama Ikfina Fahmawati akan sama-sama bekerja karena mereka memiliki pekerjaannya sendiri-sendiri.
"Saya pastikan kepada penjenengan, bupati dan wakilnya pasti akan bekerja karena kami memiliki etos kerja yang sama. Maka dengan bergabungnya saya dan Bu Ikfina justru akan lebih mempercepat tercapainya kemakmuran di Kabupaten Mojokerto," ungkap Gus Dulloh. (ori/fen)
Editor : Fendy Hermansyah