Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Silent Treatment itu Bentuk Penyiksaan Psikologis. Jadi, Stop Menormalisasinya

Imron Arlado • Minggu, 10 November 2024 | 22:39 WIB

Silent treatment meupakan sebuah senjata bagi orang pasif-agresif.
Silent treatment meupakan sebuah senjata bagi orang pasif-agresif.

JPRM - Silent treatment adalah sebuah tindak sikap seseorang mendiamkan atau mengabaikan orang lain saat ia merasa tersakiti atas ucapan maupun tindakan orang lain terhadapnya.

Namun, silent treatment tak jarang digunakan saat seseorang sedang mengalami mood yang buruk. Hal tersebut tentunya sangat menyiksa.

Silent treatment merupakan sebuah senjata bagi orang pasif-agresif. Mereka sebenarnya ingin meluapkan amarah dan unek-uneknya, namun rasa takut jika kelepasan dan meledak-ledak membuat mereka memilih untuk diam saja.

Sehingga, jika kelepasan emosi itu terjadi akan muncul penyesalan dan traumatis berkepanjang. Maka dari itu, mereka memilih untuk diam dan membiarkan orang lain kesulitan menebak apa yang salah darinya.

Silent treatment berdampak buruk terhadap orang-orang yang menjadi korban dari sikap ini, seperti cemas, bigung dan merasa tidak enak.

Terkadang, silent treatment bersifat menular karena rusaknya psikis seseorang akibat sikap terebut.

Hingga pada akhirnya, tak jarang para korban silent treatment ini berubah menjadi pelaku silent treatment.

Penyebab seseorang memberi sikap silent treatment itu beragam. Berikut tiga alasan seseorang memberikan sikap silent treatment:

  1. Tidak Tahu Cara Berkomunikasi yang Baik

Biasanya, orang yang memberi sikap silent treatment kepada orang lain tidak menahu tentang cara berkomunikasi yang baik.

Hal ini bisa disebabkan karena kurangnya komunikasi dua arah atau kejadian di masa lalu yang menekan seseorang untuk menahan perasaannya.

Sehingga, ia akan merasa takut jika terjadi salah dalam berbicara atau tidak dapat mengontrol emosinya dan menyakiti perasaan orang lain.

  1. Trauma Masa Lalu

Kemungkinan, orang yang memberikan sikap silent treatment memiliki trauma masa lalu, seperti pengalaman buruk saat megungkapkan perasaannya, berada dalam lingkungan yang kurang kondusif.

Atau mereka dulunya adalah korban silent treatment dari orang tua atau orang di sekitarnya saat terjadi suatu masalah, sehingga ia mencontoh dan menormalisasikan sikap tersebut kepada orang lain.

  1. Masalah Psikologis

Bagi sebagian orang yang terbiasa melakukan silent treatment, kemungkinan mereka beranggapan bahwa melalui silent treatment, mereka dapat mengatasi stress, kecemasan maupun perasaan terluka.

Namun sebenarnya, hal tersebut merupakan coping mechanism mereka yang tidak sehat dan justru dapat merusak psikologis seseorang.

Seharusnya, kita mesti sadar bahwa silent treatment itu tidak sehat di dalam suatu hubungan antar manusia. Semakin banyak orang melakukan silent treatment, semakin banyak pula terjadi miss comuication.

Jadi mulailah untuk mencoba untuk bersikap jujur dan terbuka, belajar mengungkapkan perasaan dengan tenang tanpa menyalahkan siapapun.

Hasina Aldhea

Editor : Imron Arlado
#penyiksaan psikologis #trauma masa lalu #Silent treatment #karakter #masalah psikologis #kepribadian