JPRM – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mukti, merancang Kebijakan yang memandang perlunya perubahan dalam sistem pembelajaran yang lebih mendalam dan kontekstual.
Pendidikan di Indonesia bersiap menyongsong era baru dengan diterapkannya Kurikulum Deep Learning.
Abdul Mukti menjelaskan bahwa Kurikulum Deep Learning bertujuan memberikan yang lebih mendalam kepada siswa.
Meski materi yang diajarkan lebih ringan dibanding sebelumnya, tapi kurikulum ini berfokus pada pengembangan keterampilan berpikir kritis siswa.
Ini merupakan respons atas tantangan kurikulum yang ada, dimana beban materi terlalu berat sehingga mengurangi kesempatan siswa untuk benar-benar menyerap dan memahami pelajaran secara luas.
Kunci utama kurikulum baru ini ialah pendekatan mindful, meaningful, dan joyful.
Mindful, atau pembelajaran dengan kesadaran, berarti guru harus peka terhadap keberagaman kemampuan dan kebutuhan setiap siswa.
Guru diharapkan sadar bahwa setiap siswa memiliki karakteristik dan gaya belajar yang unik.
Mindful juga berarti mendorong siswa untuk berpikir secara mendalam selama proses belajar.
Pertanyaan relevan harus dijadikan kesempatan untuk menggali pemahaman lebih jauh. Menciptakan lingkungan belajar yang aktif dan interaktif.
Meaningful, atau pembelajaran bermakna, mengacu pada pentingnya menerapkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Abdul Mukti menegaskan bahwa pemahaman yang kontekstual akan membuat siswa lebih termotivasi.
Ilmu yang diajarkan bukan sekedar hafalan, melainkan sebuah aplikasi yang nyata dalam kehidupan.
Konsep pendekatan Joyful menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan penuh semangat.
Guru diharapkan lebih kreatif dalam menyampaikan materi, menggunakan metode yang membuat siswa senang dan terlibat secara aktif.
Dengan demikian, belajar tidak lagi menjadi sesuatu yang membosankan, tetapi pengalaman yang dinikmati dan diingat.
Kurikulum Deep Learning akan memberikan ruang improvisasi yang lebih luas bagi guru.
Hal ini dapat menjamin pembelajaran yang tidak lagi kaku dan terstandar secara seragam karena guru dapat menciptakan metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Kurikulum ini mendukung pembelajaran berbasis pengalaman, dimana siswa banyak berinteraksi, berdiskusi, dan mempraktekkan apa yang dipelajari.
Pembelajaran interaktif tersebut akan membangun keterampilan kritis dan kreatif yang sangat dibutuhkan di era modern ini.
Tak sampai disitu Deep Learning mengharuskan guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga memandu siswa dalam memahami tujuan pembelajaran.
Mengapa kita mempelajari ini? Apa manfaatnya dalam kehidupan kita?
pertanyaan seperti itu selalu menjadi bagian yang tertanam dalam proses belajar, memastikan setiap materi yang diajarkan memiliki makna bagi siswa.
Mengambil pengalaman Abdul Mukti mempelajari konsep Deep Learning saat kuliah di Australia pada tahun 1995.
Sejak saat itu, ia menyadari bahwa pendidikan tidak seharusnya hanya menguasai materi.
Namun juga membawa pengalaman tersebut menjadi inspirasi untuk perubahan besar masa depan Indonesia.
Mengharapkan siswa bisa berkembang dengan lebih baik dalam berpikir kritis dan analitis.
Guru diharapkan berperan sebagai fasilitator yang memfokuskan belajar pada pemahaman, bukan sekedar penguasaan materi yang dihafalkan.
Abdul Mukti juga menekankan bahwa Kurikulum Deep Learning ini berbeda dengan model pembelajaran yang menuntun siswa menyelesaikan soal-soal sulit tanpa penerapan nyata.
Mengutamakan keterampilan berpikir yang bermanfaat bagi siswa, baik dalam kehidupan akademis maupun sehari-hari.
Namun Abdul Mukti menyadari bahwa kebijakan ini bukan tanpa tantangan.
Perlunya pelatihan khusus bagi guru, agar mampu mengimplementasikannya dengan baik.
Dukungan pemerintah dan komunitas pendidikan sangat dibutuhkan, agar transformasi ini bisa berkembang serta berlangsung dengan efektif.
Selain itu, pemerintah juga berencana mengkaji ulang kebijakan lain seperti Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dan Ujian Nasional.
Abdul Mukti menyebutkan bahwa kebijakan tersebut perlu disesuaikan dengan perkembangan pendidikan dan tuntutan zaman agar lebih relevan.
Kurikulum Deep Learning diharapkan mampu menjawab permasalahan dalam dunia pendidikan saat ini, terutama dalam hal keterlibatan dan motivasi siswa.
Dengan cara ini, pendidikan menjadi lebih bermakna dan mampu menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana.
Meski ada pro dan kontra, Abdul mukti percaya bahwa Kurikulum Deep Learning adalah langkah positif yang diperlukan Indonesia.
Perubahan ini memang besar, tetapi dengan kerjasama antara pemerintah, guru, dan komunitas pendidikan, Abdul Mukti yakin bahwa masa depan pendidikan Indonesia akan lebih cerah. Ara
Editor : Imron Arlado