JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Hipotermia adalah penurunan suhu tubuh secara drastis yang berpotensi berbahaya.
Penyebab yang paling umum adalah berada di lingkungan bersuhu dingin dalam waktu yang lama.
Pada dasarnya, tubuh akan membakar lemak untuk menghasilkan panas saat seseorang berada di suhu yang dingin. Namun, paparan dingin yang terjadi secara terus-menerus dapat mengganggu mekanisme tersebut karena tubuh tidak menghasilkan panas yang cukup.
Tanda-tanda suhu hipotermia yang darurat yaitu hipotermia ringan 36 derajat celsius – 36,4 derajat celsius. Hipotermia sedang 32 derajat celsius – 35,9 derajat celsius. Hipotermia berat < 32 derajat celsius.
Berikut tanda-tanda hipotermia yang perlu diperhatikan saat mendaki gunung:
1. Menggigil
Tubuh berusaha menghasilkan panas melalui aktivitas otot untuk menjaga suhu tubuh.
2. Kulit pucat dan dingin
Kulit terasa dingin saat disentuh karena aliran darah ke permukaan kulit berkurang.
3. Kesulitan bergerak
Koordinasi motorik menurun, dan pendaki mungkin tersandung atau terpeleset.
4. Perubahan kesadaran
Kesadaran bisa terganggu, dan pendaki mungkin tampak linglung atau bingung.
5. Paradoxical undressing
Ini adalah perilaku irasional dimana penderita melepas pakaian meskipun sedang kedinginan.
Lalu bagaimana cara mengatasi hipotermia?
Pengobatan hipotermia segera lepas dan ganti baju yang basah dengan yang kering, gunakan beberapa lapis selimut atau jaket untuk menghangatkan tubuh, berikan minuman hangat yang tidak mengandung kafein, berikan kompres hangat di beberapa bagian tubuh, hindari paparan angin dan udara.
Hipotermia bisa disembuhkan bila penanganan dilakukan segera. Namun perlu diingat, hipotermia adalah kondisi kegawatdaruratan medis. Jika terlambat dibawa ke dokter maka dapat menyebabkan kematian.
Alangkah baiknya seorang pendaki wajib menjaga stamina tubuh masing masing sebelum mendaki di gunung yang ekstrem.
Atau gunung yang cuacanya berubah ubah. Mengkonsumsi makanan sehat dan olahraga ringan sebelum mendaki, agar otot kaki tidak terlalu tertekan dan akhirnya menjadi kram. MAHESTI P
Editor : Imron Arlado