JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Pada Sabtu (7/9), badai topan Super Yagi melanda Vietnam bagian utara, dengan kecepatan angina lebih dari 149 kilometer per jam diserta hujan lebat yang memicu banjir dan tanah longsor berbahaya.
Menurut lembaga berwenang Vietnam, hingga Selasa siang (10/9), telah tercatat sebanyak 64 jiwa tewas akibat tanah longsor dan banjir bandang dari badai topan Super Yagi. Selain itu, dilaporkan bahwa sekitar 750 orang terluka, dan 40 orang lainnya belum ditemukan.
Jumlah korban meninggal dunia diprediksi akan terus bertambah karena upaya pencarian orang hilang masih berlangsung hingga hari ini.
Pemerintah Vietnam melaporkan bahwa, terjangan topan dan hujan lebat tersebut juga menyebabkan pemadaman listrik dan telekomunikasi secara masif di Hanoi, ibu kota Vietnam.
Dampak lain yang disebabkan badai topan terkuat di Asia tersebut tidak hanya pada infrastruktur yang rusak, akan tetapi pada aspek ekonomi dan sosial diantaranya, ribuan orang kehilangan pekerjaan karena beberapa pabrik di pusat-pusat industri Vietnam utara yang menjadi pusat ekspor rusak, hingga beberapa warga kehilangan tempat tinggal karena rusak akibat badai topan Super Yagi ini.
Menanggapi peristiwa tersebut, Kedutaan Besar RI di Hanoi, Denny Abdi, memastikan bahwa tidak ada warga negara Indonesia yang terdampak badai topan Super Yagi. Hal ini dikarenakan, wilayah yang dihuni WNI tidak terdampak.
''Komunikasi dengan WNI, saat ini belum ada laporan apakah korban meninggal, luka, dan dampak lainnya. Jumlah WNI di seluruh Vietnam 900 orang dan sebagian besar di selatan di Ho Chi Minh City,'' kata Denny Abdi, dikutip dari keterangan tertulis pada Selasa, (10/9).
Denny menambahkan apabila terdapat lima provinsi di Vietnam Utara yang terdampak berat bencana badai topan Super Yagi tersebut, Hanoi salah satunya. Selain itu, investasi di pabrik semen yang berada di Thang Long juga terdampak, namun tidak ada korban jiwa.
''Ada lima provinsi terdampak berat semuanya di Vietnam Utara, terdampak diantaranya Hanoi. Kita ada investasi pabrik semen di Thang Long, sedikit terdampak propertinya tetapi tidak ada korban,'' ungkapnya.
Ia juga mengapresiasi penanganan bencana yang telah dilakukan oleh Pemerintah Vietnam, sehingga masih bisa ditangani dan dapat diperkecil. Hal tersebut juga dibantu oleh kesadaran mitigasi masyarakat yang tinggi, dengan mematuhi segala imbauan dan instruksi yang diberikan dari pemerintah saat bencana terjadi.
''Vietnam sangat disiplin sehingga jumlah korban dapat ditekan, korban meninggal itu karena pohon tumbang. Masyarakat aware (peduli), kemarin saja Kota Hanoi kosong karena tidak ada orang,'' katanya.
Sebelumnya, diketahui bahwa, badai topan Super Yagi terjadi pertama kali bukan di Vietnam. Badai terkuat di Asia ini ternyata telah lebih dulu menghantam beberapa negara lain, yaitu Filipina pada September 2023 lalu, Hongkong, hingga China pada 6 September 2024.
Mengutip dari The Guardian, badai topan Yagi ini merupakan badai terkuat yang terjadi di Asia pada 2024 ini, dengan angin berkecepatan maksimum 234 kilometer per jam di dekat pusatnya.
Badai topan Yagi ini telah terbentuk pertama kali di Filipina, tepatnya di atas lautan hangat di sebelah timur Filipina, hingga menewaskan sebanyak 13 korban jiwa. Para peneliti meyakini bahwa, topan menjadi lebih kuat karena dipicu oleh lautan yang menghangat di tengah perubahan iklim. (SALSSS)
Editor : Imron Arlado