JAWA POS RADAR MOJOKERTO- Gelombang protes menerpa pelaksanaan seleksi calon Pegawai Negeri Sipil ( CPNS ) 2024. Sejumlah peserta dari berbagai daerah di Indonesia menuding adanya kecurangan dalam sistem seleksi yang digunakan melalui portal Sistem Seleksi Calon Aparatur Sipil Negara ( CASN ).
Salah satu masalah yang sering dibahas adalah kendala teknis pada system e-meterai PERURI. Banyak pelamar yang mengalami kesulitan dalam mengaktifkan e-meterai, yang kemudian menyebabkan proses pendaftaran terganggu.
Surat edaran dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) Nomor 5915/BSI.02.03/SD/E/2024 5 September 2024 memberikan solusi atas kendala teknis ini dengan memberikan pilihan penggunaan materai elektronik maupun konvensional.
Selain itu, kesalahan-kesalahan dalam pembubuhan materai juga menjadi sumber kontroversi. Banyak pelamar yang mengalami kesalahan seperti e-materai ditambahkan sebelum dokumen ditandatangani, ukuran dokumen yang tidak sesuai hal tersebut dapat menyebabkan pelamar tidak lolos seleksi administrasi CPNS 2024.
Banyak peserta yang menuduh adanya kecurangan dalam proses seleksi. Mereka mengklaim bahwa sistem seleksi tidak adil, beberapa pelamar telah berhasil lolos seleksi tanpa memenuhi syarat yang telah ditetapkan.
Tudingan ini semakin kuat karena beberapa pelamar yang tidak memenuhi syarat (TMS) masih berhasil lolos seleksi administrasi.
Penggunaan teknologi sebagai pendeteksi kecurangan juga menjadi perhatian utama. Infrastruktur yang siap dan teknologi yang canggih diperlukan untuk memastikan proses seleksi berjalan dengan transparan dan adil.
Namun, sebagian peserta masih mengeluhkan bahwa system yang digunakan tidak cukup efektif dalam mendeteksi kecurangan.
Kontroversi sistem seleksi CPNS 2024 menunjukkan bahwa proses rekrutmen aparatur sipil Negara masih memiliki banyak tantangan. Untuk memastikan proses seleksi berjalan dengan lancar dan adil, pemerintah harus terus meningkatkan kualitas infrastruktur dan teknologi yang digunakan. Selain itu, transparan dan keterbukaan dalam proses seleksi juga sangat penting untuk membangun kepercayaan publik. WIDYA
Editor : Imron Arlado