JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Hingga saat ini belum ada peneliti yang dapat memprediksi kapan terjadinya Gempa Megathrust yang dikabarkan akan melanda Indonesia di kemudian hari.
Para peneliti hanya menyampaikan jika Indonesia saat ini terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik besar. Sehingga, apabila terjadi pergeseran dan saling bertabrakan pada lempeng tektonik tersebut, Indonesia akan mengalami ancaman serius.
Selain itu, diketahui jika pertemuan pada lempeng-lempeng tersebut telah menciptakan bidang Megathrust. Hal ini yang menyebabkan Indonesia memiliki sebanyak 15 Segmen Megathrust yang telah terdeteksi sejauh ini.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nuraini Rahma Hanifa, turut menanggapi persoalan tersebut dan menjelaskan beberapa hal mengenai Gempa Megathrust.
Nuraini menyampaikan apabila Gempa Megathrust yang tengah menghantui masyarakat Indonesia ini memiliki tiga siklus yang terdiri dari fase interseismic, coseismic, dan postseismic.
Fase interseismic terjadi karena adanya tekanan akibat pergerakan lempeng tektonik yang terus terakumulasi di sepanjang zona patahan tanpa adanya pelepasan energi.
Selanjutnya, fase coseismic yang merupakan fase ketika energi yang telah terakumulasi selama fase interseismic melepaskan energinya sehingga menghasilkan gelombang seismic yang terasa sebagai gempa.
Ada pun fase setelah gempa bumi terjadi yang disebut postseismic. Pada fase ini, proses pemulihan dan penyesuaian berlangsung di sepanjang zona patahan.
Perlu diketahui, saat ini segmen Megathrust yang berada di Selat Sunda sedang mengalami fase interseismic.
Nuraini menjelaskan bahwa, Megathrust Selat Sunda merupakan salah satu segmen yang berada di Selatan Jawa dan menjadi salah satu zona seismic gap atau zona sumber gempa potensial. Namun, dalam masa puluhan hingga ratusan tahun terakhir gempa besar belum terjadi.
Nuraini mengungkapkan apabila adanya potensi tsunami hingga 20 meter yang menghantam wilayah Banten ketika Megathrust di bagian Selatan Jawa melepaskan energi besarnya.
Hal tersebut sejalan dengan studi yang telah dilakukan oleh sejumlah peneliti yang melakukan pemodelan tsunami hingga berhasil diterbitkan pada tahun 2020.
"Tsunami ini, kalau dengan skenario satu selatan Jawa, maka potensi tinggi tsunami di selatan Jawa itu bisa mencapai 5-20 meter," kata Nuraini.
Ia menjelaskan bahwa Megathrust Selat Sunda memiliki panjang hingga 280 kilometer dan lebar 200 kilometer dengan pergeseran 4 centimeter per tahunnya.
Menurut catatan BMKG, gempa besar terakhir di Selat Sunda ini terjadi pada tahun 1757, dengan usia seismic gap 267 tahun.
Lebih lanjut, Nuraini mengatakan apabila saat ini terdeteksi akumulasi energi yang lebih besar ada di Jawa bagian barat yaitu di daerah Lebak, Banten dan memiliki potensi tsunami dengan ketinggian gelombang hingga mencapai 20 meter.
''Masih kami monitor terus, mungkin di daerah Lebak Banten bisa sampai 20 meter. Rata-rata daerah lainnya 15 meter, sama tinggi lah ya. Makanya kita keluarnya rata-rata di selatan Jawa itu potensinya bisa 20 meter dengan waktu tempuh rata-rata 20 menit,'' katanya. SALSSS
Editor : Imron Arlado