Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Gempa Megathrust Adalah Ancaman, Pakar Mitigasi Bencana ITS Rancang Tiga Ide Bangunan Antigempa

Imron Arlado • Senin, 2 September 2024 | 18:48 WIB

 

Bangunan di Jepang yang tahan terhadap gempa
Bangunan di Jepang yang tahan terhadap gempa

SURABAYA – Pusat penelitian mitigasi kebencanaan dan perubahan iklim (MKPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember ( ITS ) merekomendasikan tiga gagasan bangunan tahan gempa. Ide itu bertujuan mengantisipasi terjadinya gempa megathrust dan mengurangi risikonya.

Kepala Pusat Penelitian MKPI ITS Prof Adjie Pamungkas ST MDevPlg PhD mengatakan, prinsip membangun rumah tahan gempa ada pada standar nasional Indonesia (SNI) 1726; 2019.

Namun, para peneliti di ITS memiliki beragam penelitian yang dikembangkan sesuai kondisi di lapangan. Salah satunya, penelitian yang digagas Ahmad Basshofie Habieb.

”Dia merekomendasikan hunian sederhana ramah gempa,” katanya. Basshofie memberikan alternatif penguatan bangunan rumah.

Salah satunya dengan kawat anyam, paku payung, dan plesteran. Selain itu, juga penguatan dengan bambu, PP band, campuran pasir dan limbah karet untuk peredam gempa.

”Prinsipnya itu dapat membantu menahan bangunan agar tidak runtuh sehingga menyebabkan korban jiwa. Biayanya juga lebih murah,” imbuhnya.

Usul kedua disampaikan Prof Tavio. Dia memiliki ide pembangunan rumah sederhana 1–2 lantai. Rumah itu dilengkapi peredam dari karet untuk mengurangi risiko gempa.

Peredam karet tersebut, kata Adjie, diibaratkan suspensi mobil. ”Selain menjadi rumah tahan gempa, goyangannya juga tidak besar karena ada peredam dari karet itu,” kata Adjie.

Anjuran ketiga yang direkomendasikan MKPI adalah menambah ketangguhan bangunan tinggi atau bertingkat. ”Tiga ide dari MKPI itu yang diberikan sebagai solusi untuk mengurangi risiko dari dampak gempa megathrust,” ujarnya.

Adjie menjelaskan, gempa megathrust adalah ancaman. Namun, ancaman tersebut tidak bisa dihindari. Risiko tidak melulu tentang ancaman, tetapi juga tentang kapasitas dan kerentanan.

”Bagaimana kita punya kemampuan untuk mengurangi dampak dari ancaman itu tadi. Salah satunya dengan hunian tahan atau ramah gempa,” jelasnya.

Tim peneliti MKPI ITS, lanjut Adjie, sudah menyosialisasikan tiga ide rumah tahan gempa tersebut. Fokusnya meminimalkan risiko jika terjadi gempa.

”Harapan kami tentunya, ide dan rekomendasi MKPI ini bisa ditindaklanjuti di lapangan, bisa dibantu pemerintah atau swasta serta kelompok-kelompok masyarakat,” katanya. (ayu/c6/aph)

Editor : Imron Arlado
#gempa megathrust #sni #standar nasional indonesia #Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika #institut teknologi sepuluh nopember #ADJIE PAMUNGKAS #bangunan tahan gempa #BMKG #mitigasi kebencanaan dan perubahan iklim #its