JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Banyuwangi menjadi salah satu dari 8 daerah di Jawa Timur yang telah diprediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) sebagai daerah yang terdampak adanya gempa megathrust.
Meski belum diketahui pasti kapan terjadinya gempa tersebut, persoalan gempa megathrust masih menjadi perhatian serius terutama bagi masyarakat wilayah Jawa Timur.
Jika dilihat dari sejarah, menunjukkan bahwa telah terjadi tsunami dahsyat di Banyuwangi usai gempa megathrust bermagnitudo 7,2 menghantam pesisir selatan Pulau Jawa pada tahun 1994 silam.
Banyak korban jiwa yang berjatuhan akibat peristiwa kelam tersebut, terutama warga Banyuwangi yang tinggal di Kecamatan Pesanggaran dan sekitarnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Banyuwangi Danang Hartono turut buka suara mengenai persoalan Gempa Megathrust yang harus diwaspadai oleh masyarakat.
’’Potensi tsunami di Indonesia, khususnya di Banyuwangi itu cukup besar,” tegas Danang, Selasa (27/8).
Oleh karena itu, menurut Danang hal yang perlu segera dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya bencana adalah dengan peningkatan mitigasi bencana.
Ia mengungkapkan, masyarakat Banyuwangi khususnya yang tinggal di daerah rawan tsunami harus mempersiapkan diri untuk selalu siap dan siaga mulai dari sekarang.
Danang juga menambahkan, apabila terdapat suara sirine atau tanda darurat, dimohon untuk tidak mengabaikan dan segera bergegas untuk keluar cari perlindungan. Terutama, masyarakat yang tinggal di pesisir akan memiliki resiko besar saat gempa bumi berlangsung.
’’Masyarakat harus siap dengan pakaian dan barang penting lainnya yang mudah dijangkau,” katanya.
Danang mengungkapkan, Kabupaten Banyuwangi kini telah memiliki susunan rencana dalam menanggulangi isu bencana gempa megathrust sebagai upaya mitigasi.
Dalam hal ini, Danang bersama dengan pihaknya telah memasang Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System (EWS) di delapan titik sepanjang pesisir selatan Jawa Timur.
Baca Juga: Beberapa Kecamatan di Garut yang Diprediksi Terkena Gempa Megathrust
Dengan pemasangan alat ini, dipastikan dapat digunakan untuk mendeteksi perubahan muka laut yang mengindikasikan tsunami, dengan dilengkapi CCTV, solar cell, dan data tersebut langsung dapat terhubung dengan BMKG. ’’EWS ini kami pasang di delapan titik strategis di pesisir selatan,” jelasnya.
Delapan lokasi yang dimaksud adalah lokasi yang berada di pesisir, meliputi Pantai Kampung Mandar Banyuwangi, Pantai Blimbingsari, Pantai Satelit Muncar, Kantor Pelabuhan Muncar, Pantai Grajagan, Pantai Lampon, Pantai Pancer, dan Pantai Rajegwesi.
Danang juga mengatakan bahwa, semua EWS selalu dilakukan uji coba setiap bulan di tanggal 26 sebagai upaya untuk memastikan alat pendeteksi tsunami tersebut bisa berfungsi dengan baik saat bencana terjadi.
Selanjutnya, Danang juga mengatakan telah merencanakan pembangunan shelter di beberapa titik wilayah Banyuwangi. Gumuk Soinem, menjadi salah satu lokasi yang diajukan sebagai tempat evakuasi karena dianggap strategis.
’’Kami rencanakan pembangunan shelter di beberapa lokasi, termasuk di Gumuk Soinem,” ungkap Danang.
Hingga saat ini, pihak BPBD sedang memetakan beberapa lokasi yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat pembangunan shelter tambahan.
Danang juga berharap, kedepannya Kabupaten Banyuwangi terutama di setiap desanya bisa memiliki shelter yang dapat digunakan masyarakat ketika bencana terjadi. (SALSSS)
Editor : Imron Arlado