JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Persoalan mengenai gempa megathrust ini telah dikonfirmasi langsung oleh Kepala Pusat Gempa dan Tsunami Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) BMKG, Daryono.
Meski belum diketahui pasti kapan terjadinya gempa ini, ia menegaskan jika Indonesia perlu waspada terhadap potensi gempa megathrust yang telah lebih dulu melanda pulau Kyushu, Jepang dengan skala magnitudo 7,1 pada dua pekan lalu.
Gempa megathrust yang telah melanda Jepang dengan skala besar, justru menimbulkan rasa khawatir pada masyarakat Indonesia. Terlebih lagi, Gempa Megathrust dapat memicu potensi gelombang tsunami yang besar.
Menanggapi persoalan berikut, Ketua Umum Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), Avianto Amri bersama dengan Pemerhati Mitigasi Bencana Merdeka sekaligus anggota pengarah ikatan ahli bencana Indonesia, Surono turut buka suara terkait isu yang sedang diperbincangkan oleh masyarakat.
Baca Juga: Gempa Yogyakarta Sebabkan Tembok Rumah Retak dan Atap Jebol, Ini yang Dilakukan Pemerintah Setempat
Sebelumnya, seperti yang telah kita ketahui bahwa Megathrust merupakan pertemuan lempeng tektonik bumi yang aktif pada zona subduksi.
Hal tersebut dapat membuat ancaman serius bagi Indonesia, lantaran sebagian wilayah Indonesia dikelilingi patahan-patahan besar.
’’Ada beberapa wilayah yang memang secara teori perlu diwaspadai, seperti zona megathrust di Selat Sunda atau di Mentawai Siberut. Zona tersebut memiliki wilayah seismic gap artinya kekosongan aktivitas seismik yang cukup lama,’’ ungkap Surono.
Selanjutnya, Surono juga mengatakan bahwa kekosongan tersebut menimbulkan simpanan energi yang besar cukup lama. Jika energi tersebut lepas, maka gempa bumi yang besar akan terjadi hingga berpotensi tsunami yang dahsyat.
Rono memberi pernyataan bahwa, jika gempa megathrust yang menjadi perbincangan ini adalah sebuah peringatan dini, maka sudah seharusnya BMKG, selaku pemberi peringatan memberikan ruang dan waktu kepada masyarakat, seperti arahan dan tindakan dalam menghadapi gempa.
Di sisi lain, Surono menjelaskan bahwa bencana adalah tanggung jawab semua pihak, karena banyak aspek yang terlibat ketika terjadi bencana.
''Bencana ini tanggung jawab semua pihak, karena terlalu banyak aspek yang menyangkut saat terjadi bencana. Ada unsur pendidikannya, sosialisasinya, infrastrukturnya, jadi harus ada suatu kerjasama yang meliputi seluruh aspek dalam menghadapi megathrust ini,’’ tutur Surono.
Selanjutnya, Rono mengungkapkan bahwa, gempa bumi dapat terjadi kapan saja dan hal ini tidak dapat diprediksi dengan pasti kapan terjadinya. Salah satu cara yang dapat dilakukan hanyalah mempersiapkan diri untuk selalu siap dan siaga, terutama untuk beberapa wilayah yang termasuk rawan bencana.
Surono menerangkan, rekam jejak peristiwa gempa bumi atau tsunami yang telah menimpa Indonesia beberapa tahun silam, cukup untuk menjadi pembelajaran bagi masyarakat.
’’Kita memiliki rekam jejak gempa bumi maupun tsunami yang terjadi beberapa tahun silam, seperti tsunami Aceh 2004, gempa Jogja 2006, gempa Pangandaran 2006, gempa Lombok, dan gempa Palu 2018. Gempa-gempa tersebut mengakibatkan korban jiwa dan kerugian material yang cukup besar. Seharusnya sudah cukup bagi kita untuk belajar dari peristiwa tersebut,’’ ungkap Surono.
Surono berharap terbentuknya Kampung Siaga Bencana yang digunakan sebagai upaya mengantisipasi dan menanggulangi bencana bukan hanya sebatas project belaka, tetapi harus kuat dalam menyadarkan masyarakat mengenai bencana.
Surono juga menambahkan bahwa masyarakat harus menghadapi ancaman tersebut dengan tidak panik. Namun, tetap memperkuat kesiagaan dan kesiapan mulai dari sekarang.
''Kita harus serius menghadapi ancaman ini. Aktivitas gempa yang meningkat adalah pengingat bahwa kita hidup di wilayah yang rentan bencana. Jangan menunggu sampai bencana besar terjadi. Mulai sekarang, mari kita tingkatkan kesiapsiagaan kita,” ujarnya.
Sementara, Ketua Umum Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia ( MPBI )Avianto Amri juga menanggapi hal yang sama. Menurut dia, Indonesia memang merupakan wilayah yang rawan gempa dan sudah familiar dengan berbagai ancaman gempa.
Namun yang disayangkan hingga saat ini, belum ada pernyataan tentang suatu rekomendasi teknisi mengenai apa yang harus dilakukan oleh masyarakat.
''Untuk ancaman gempa dan tsunami Megathrust ini, kita harus mengetahui apa yang harus dilakukan saat sebelum dan sesudah gempa. Dengan memastikan keadaan rumah dan tempat kerja aman, menyiapkan perlengkapan atau tas siaga, dan kita harus mengetahui jalur evakuasi serta tempat aman jika gempa benar-benar terjadi,’’ kata Avianto.
Anto menambahkan bahwa pihaknya juga telah bekerja sama dengan BNPB dan telah mengomunikasikan persoalan tersebut bersama BPBD setempat mengenai dorongan sosialisasi dan edukasi tentang ancaman bencana.
Anto menambahkan bahwa pihaknya telah membentuk Tim Siaga Bencana sebagai upaya mengantisipasi dan menanggulangi bencana.
’’Telah disusun tim Siaga Bencana, sehingga di setiap wilayah sudah ada perwakilan yang dilatih mengenai edukasi kebencanaan, terutama gempa bumi. Nantinya, mereka akan menjadi pionir di lingkup perkampungan masyarakat yang dapat menyampaikan ilmu tanggap darurat kebencanaan kepada masyarakat lain.’’ jelas Avianto.
Selain itu, Avianto juga menyarankan kepada masyarakat untuk tetap mengikuti perkembangan informasi yang disampaikan oleh BMKG dan Command Center 112 atau informasi terpercaya, agar tidak ada informasi hoaks yang dapat membuat kegaduhan masyarakat. (SALSSS)
Editor : Imron Arlado