JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Persoalan mengenai potensi gempa megathrust yang disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) masih menjadi perbincangan serius oleh masyarakat terlebih ketika diprediksi akan melanda di beberapa wilayah Indonesia.
Diketahui, kekuatan magnitudo yang dihasilkan dari gempa megathrust ini sangat mengkhawatirkan karena dapat menyebabkan tsunami yang besar dan bahkan kerusakan yang meluas.
Hal tersebut disebabkan karena adanya patahan yang panjang pada zona subduksi sehingga melibatkan area di sekitar titik pusat gempa.
Meski belum diketahui pasti kapan terjadinya gempa tersebut, beberapa wilayah telah menanggapi serius persoalan ini, termasuk wilayah Jawa Timur.
Beberapa wilayah Jawa Timur yang telah diprediksi BMKG sebagai daerah yang paling mungkin terancam adanya Gempa Megathrust ini, yaitu Pacitan, Trenggalek, dan Banyuwangi.
Meskipun Jember bukan termasuk ke daftar wilayah rawan, jika dilihat dari sejarah menunjukkan bahwa pada tahun 1994 silam pernah terjadi bencana tsunami yang melanda Payangan bersumber dari selatan Banyuwangi.
Di sisi lain, telah ada dua kali gempa bumi yang terjadi dalam dua hari terakhir yang getarannya dapat dirasakan hingga di wilayah Jember yaitu pada (13/8), gempa telah terjadi di wilayah Malang. Kemudian, disusul pada (14/8), gempa kembali terjadi di wilayah Bali.
Sehingga, tidak menutup kemungkinan bahwa wilayah Jember juga akan terdampak potensi bencana yang bisa disebabkan dari adanya Gempa Megathrust di kemudian hari ini.
Penta Satria, selaku Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD ) Jember menyatakan bahwa sebanyak enam dari total 31 kecamatan di Kabupaten Jember telah terdeteksi sebagai wilayah yang berpotensi terancam bencana saat gempa megathrust benar-benar terjadi.
Kecamatan yang paling rentan terdampak gempa megathrust ini adalah wilayah yang berada di pesisir pantai selatan Jember, yaitu Tempurejo, Ambulu, Wuluh Puger, Kencong, dan Gumukmas.
Menanggapi persoalan ini, BPBD Jember telah mengambil langkah antisipasi dengan melakukan beberapa upaya mitigasi untuk menghadapi kemungkinan bencana tersebut.
Satria menyarankan agar masyarakat dapat menghadapi ancaman tersebut dengan tidak panik. Namun, tetap memperkuat kesiagaan dan kesiapan mulai dari sekarang, karena tidak tahu pasti kapan gempa besar tersebut datang.
Selain itu, Satria juga memastikan telah meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat yang terdampak dengan beberapa upaya, seperti sosialisasi dan simulasi kebencanaan.
’’Kami menyiagakan pos relawan dan desa tangguh bencana (destana) di seluruh Kabupaten Jember,’’ ungkap Penta, dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (23/8).
Sebelumnya, BPBD juga telah melakukan survei di pantai selatan mengenai rencana lokasi penempatan alat pendeteksi tsunami atau early warning system ( EWS ).
Alat tersebut dipastikan dapat digunakan untuk mendeteksi perubahan muka laut yang mengindikasikan tsunami, dengan dilengkapi CCTV, solar cell, dan data tersebut langsung dapat terhubung dengan BMKG. (SALSSS)
Editor : Imron Arlado