JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional ( BRIN ) Profesor Danny Hilman Natawidjaja bersuara terkait ramainya kabar gempa megathrust di Indonesia.
Danny menyebutkan, fenomena yang muncul akibat gempa megathrust di masyarakat seolah-olah akan terjadi dalam waktu dekat.
Kabar gempa megathrust ini memang berkembang cukup lama karena isu tersebut mudah muncul dan mudah tenggelam di masyarakat.
Masyarakat juga harusnya tetap siaga dalam menghadapi bencana. Kesiapsiagaan harus dimiliki oleh masyarakat karena bencana bisa muncul kapan saja.
Danny menegaskan, mitigasi bencana adalah wewenang Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB ) atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD ) baik tingkat yang lebih besar hingga tingkat kabupaten atau kota. Sedangkan BRIN melakukan penelitian titik pusat gempa hingga risikonya.
Danny mengatakan, pihaknya pernah membuat simulasi gempa megathrust Selat Sunda dengan gempa berkekuatan magnitudo 9.
Setelah dilakukan simulasi, ternyata Gempa Megathrust dapat memicu tsunami. ’’Untuk Jakarta, tsunami datang butuh waktu satu jam,’’ jelasnya.
Waktu satu jam masih cukup bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri. Dengan catatan, sistem peringatan dini beroperasi maksimal dan akurat.
Selain itu, butuh dukungan mitigasi serta kesiapsiagaan masyarakat, agar tidak terjadi kerugian besar.
Gempa megathrust itu seperti ular karena memanjang, dan guncangannya bisa menjangkau tempat yang jauh dari titik pusat gempa.
Meskipun namanya gempa megathrust Selat Sunda, jika menghasilkan gempa magnitudo 9, efek gempa bisa dirasakan di sepanjang pesisir selatan Laut Jawa.
Menurut dia, titik pusat gempa biasanya memiliki panjang sekitar 1.000 meter atau sekitar 1 Km.
Danny mencontohkan gempa Aceh 2004 yang pada saat itu berpusat di Simeulue, Aceh, tetapi guncangannya terasa sampai Thailand.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa Early Warning System ( EWS ) pada gempa dan tsunami tidak hanya berasal dari BMKG, tapi juga berkaitan dengan Pemda.
“Sebab, BMKG hanya memberitahukan ke pemda” jelas Dwikorita. Sehingga, langkah selanjutnya Pemda lah yang berwenang membunyikan sirene dan melakukan evakuasi. ’’Jadi, yang pencet tombol sirene dari pemda sampai ke jalur evakuasi,’’ terangnya.
Menurut dia, jalur evakuasi untuk bencana di daerah pesisir seharusnya sudah diketahui. “Rambu-rambunya harus jelas,” terang dia. Tidak hanya itu, bangunan-bangunan seperti hotel juga seharusnya telah disertifikasi tahan gempa dan guncangan.
Menteri Sosial Tri Rismaharini mengatakan, pihaknya memaksimalkan kampung siaga bencana untuk mengantisipasi ancaman bencana di Indonesia, termasuk Gempa Megathrust.
’’Memang harus disiapkan. Ya, kita semua takut, aku pun takut. Tapi, memang harus disiapkan. Kadang kan kalau kita ngomong baik-baik saja, mereka enggak siap,” ujarnya (21/8).
Saat ini, tercatat ada 1.132 kampung siaga bencana dengan jumlah terbanyak ada di Jawa Barat, yakni 135 Lokasi. Menurut Risma, efektivitas kampung siaga bencana tersebut suda teruji.
Dia mencontohkan saat banjir lahar dingin dan longsor akibat letusan Gunung Merapi. Pada saat itu Kabupaten Agam belum memiliki kampung siaga bencana, sedangkan kampung siaga bencana ada di Solok.
Setelah terjadi bencana, warga solok ikut membantu untuk menangani bencana di Agam. ’’Kita bawa, mereka masak, ikut memasang tenda, ikut bantu evakuasi. Jadi bisa diperbantukan,” paparnya. NAILUL
Editor : Imron Arlado